Adab dan Tujuan Jihad

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram

Diantara tujuan jihad apabila seorang muslim turun ke medan perang, maka tujuan utamanya adalah agar Kalimatullah tegak diatas kalimah kufur. Sebab agama telah menggariskan larangan keras, agar jihad tidak dicampuradukkan dengan tujuan-tujuan lain. Mengharap pangkat dengan cara melakukan jihad adalah suatu perbuatan yang diharamkan. Begitu pula untuk kepentingan popularitas, publisitas, keinginan mencari kekayaan, mengharapkan ghanimah (harta rampasan) dan hanya sekadar mencari kemenangan yang tak beralasan, sangat dilarang di dalam agama. Yang diperbolehkan di dalam melaksanakan jihad ini ialah mengorbankan darah dan nyawa sebagai tebusan bagi aqidahnya, demi mebela kebenaran petunjuk yang berlaku bagi seluruh ummat manusia. Sedang adabnya ialah agar sebelum peperangan dimulai hendaklah didahului dengan da’wah kepada tauhidullah, jika menolak disuruh membayar upeti (jizyah), jika menolak maka perang adalah solusi akhir. Perhatikan contoh-contoh didalam hadits berikut:

Imam Malik berkata:

“Wajib menyeru mereka kepada Islam, meskipun da’wah Islam telah sampai kepada mereka selama mereka tidak menyerang terlebih dahulu.”

Adalah Rasulullah berdakwah langsung kepada orang-orang musyrik secara lisan dengan mengatakan: “Wahai manusia, ucapkan Laa ilaha illallah, niscaya kalian akan beruntung…” Adapun kepada para raja, beliau berdakwah dengan surat yang dibawa oleh para utusan. Ini sebuah contoh surat beliau kepada Hiraklius raja Romawi:

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah kepada Heraklius, orang besar Romawi. Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du: Sesungguhnya aku menyerumu dengan seruan Islam: Islam-lah, niscaya engkau akan selamat, Allah akan memberikan pahala kepadamu dua kli lipat. Jika engkau berpaling, maka sesungguhnya engkau akan menangguing dosa orang-orang Romawi.

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Rasulullah memandang bahwa surat tersebut sebagai da’wah yang mencukupi, halal bagi kaum Muslimin memerangi mereka karenanya apabila mereka tidak mau mengikuti Dienul Islam atau tidak bersedia membayar jizyah. Dalam perang Tabuk, Rasulullah tidak mengulang lagi da’wah kepada Islam setelah suratnya yang tersebut di atas (sampai kepada mereka). Dalam Shahih al Bukhari dan Muslim diriwayatkan; bahwasanya beliau memerangi Bani Mushtaliq yang melakukan penyerangan ketika mereka sedang memberikan minum ternak-ternak pioaraan mereka. Beliau membunuh pejuang-pejuang mereka.

Dari al Harits bin Muslim dari ayahnya, ia berkata:

“Rasulullah mengirim aku untuk berperang yang tergabung di dalam satu pasukan. Ketika aku tiba di tempat pertahanan, aku menepuk kuda yang aku tunggang agar bisa melewati para sahabat yang berada di depan. Aku disambut oleh musuh di perkampungan Ranin, lalu aku mengtakan kepada mereka: Katakanlah, Tiada Tuhan melainkan Allah, maka kalian akan aman. Mereka itu ternyata mau menuruti perintahku mengucapkan kalimat Tauhid. Semua sahabat kemudian mencela perbuatanku, mereka mengatakan: Akibat ulahmu, kami tidak mendapatkan ghanimah. Ketika kami tiba kembali menghadap Rasulullah, mereka menyampaikan peristiwa yang aku lakukan. Kemudian Rasul memanggilku dan memuji terhadap perbuatanku. Beliau bersabda: Ketahuilah, bahwa Allah telah menetapkan untukmu pahala untuk setiap orang (yang masuk Islam). Adapun aku akan memberikan wasiat untuk orang sesudahku, lalu memberikan stempel dengan stempel beliau yang diberikan kepadaku.”

Dari Syaddad bin al Hadi, ia mengatakan: Seorang Badui datang menemui Rasul, lalu menyatakan iman di hadapannya sambil mengtakan: Saya bersedia hijrah bersamamu. Kemudian Rasulullah menitipkan kepada salah seorang sahabat. Pada suatu ketika, meletuslah perang dan Nabi memperoleh ghanimah yang sangat banyak yang dibagi-bagikan kepada seluruh sahabatnya, termasuk seorang Badui itu. Ketika ghanimah tersebut diberikan kepadanya, ia mengatakan: Apa ini? saya mengikuti anda bukan lantaran barang ini; tetapi saya mengikuti anda agar aku mati dengan panah di tenggorokan – sambil memegang tenggorokan – agar aku dapat masuk syurga. Nabi menjawab: Apabila cita-citamu ini benar, maka Allah akan mengabulkannya. Belum lama berselang, ia bangkit maju ke medan pertempuran, dan tewas. Kemudian jenazahnya dibawa kehadapan Rasul, dan di tenggorokannya bersarang anak panah tepat di tempat yang dipegangnya ketika ia berbicara dengan Rasul. Rasulullah bersabda: Apakah dia orang Badui itu? Para sahabat menjawab: Ya. Rasul meneruskan sabdanya: Dia berbuat benar terhadap Allah, maka Allah mengabulkan keinginannya. Kemudian Rasul membungkusnya dengan jubahnya sendiri, dan berdiri shalat jenazah. Doa yang terdengar melalui mulut Rasul ialah: Ya Allah, ini adalah hamba-Mu yang hijrah di jalan-Mu dan gugur dalam keadaan syahid. Aku ikut bersaksi bahwa ia mati syahid.”

Dari Abu Hurairah ia berkata: Seorang laki-laki mengatakan kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, ada seorang ikut berperang di jalan Allah, sedangkan ia mengharap harta duniawi. Rasul menjawab: Dia tidak akan memperoleh pahala, (Beliau mengulangi pernyataannya itu sebanyak tiga kali).

Dari Abu Musa, ia berkata: Rasulullah ditanya mengenai seseorang yang berperang karena ingin dikatakan sebagai pemberani, karena fanatisme, dan karena memamerkan diri. Manakah yang sebenarnya dikatakan fie sabilillah? Rasulullah menjawab: Barang siapa yang berperang di jalan Allah demi meluhurkan Kalimatullah, maka dia itu fie sabilillah.

Apabila diperhatikan peristiwa peperangan yang dilakukan para sahabat, begitu pula mengenai penaklukan negara-negara di dalam rangka perluasan Islam, maka dapat kita lihat bahwa para sahabat itu selalu bersikap antipati terhadap materi dan ambisi. Tujuan mereka hanya satu, yaitu memberikan petunjuk kepada manusia tentang kebenaran, sehingga Kalimatullah menjadi luhur. Kita juga akan melihat, betapa salahnya suatu kaum yang mengatakan bahwa para sahabat itu hanya berkeinginan menguasai bangsa-bangsa lain, menindas dan mencari materi. Tuduhan-tuduhan itu adalah suatu fitnah dan kebohongan kaum kuffar dan orang-orang yang menjadi antek-antek kaum kuffar.

Oleh: Ust. Abu Muhammad Jibriel Abdurrahman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Terkait

Tulisan Rekomendasi

Tulisan Terbaru

Tulisan Terpopuler

No Content Available