“Bahaya Hijau”

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram

The Green Menace! Bahaya Hijau! Demikianlah istilah yang muncul ke permukaan ketika kaum Zionis Yahudi, Salibis, atau Negara-Negara Barat—khususnya Amerika Serikat—melihat kekuatan Islam dengan  maraknya aktivitas gerakan Islam di berbagai belahan dunia, sebagai ancaman bagi kepentingan mereka. “Bahaya Hijau” digunakan sebagai pengganti “bahaya merah” (komunisme Soviet) yang telah “kalah” dalam perang dingin.

Persepsi ancaman Islam, yang menyebabkan Barat memusuhi dan memerangi Islam dan kaum Muslim, sebenarnya bukan hal baru. Khususnya sejak terjadinya Perang Salib, Barat yang nota bene kaum Zionis, Salibis dan Sekularis, melihat betapa Islam merupakan kekuatan dahsyat yang dapat mengusai dunia sekaligus mengancam kepentingan mereka, sebagaimana yang telah dibuktikan sejak masa Khulafaur Rasyidin hingga khilafah Islamiah Turki Utsmani. Karena itulah, Barat senantiasa merancang dan melaksanakan berbagai upaya untuk melemahkan Islam dan para pembelanya, antara lain melalui invasi pemikiran dan kebudayaan, karena mereka sadar tidak akan dapat menguasai dunia Islam hanya dengan jalan peperangan militer!

Isu konflik Barat vs Islam memang menghangat sejak kolapsnya komunisme (Uni Soviet). Pasca Perang Dingin, dunia Barat melihat Islam sebagai kekuatan baru yang menjadi ancaman mereka. Islam adalah the Green Menace sekaligus the next enemy bagi Barat. Terlebih lagi pasca Perang Dingin kian marak bermunculan fenomena kebangkitan Islam berupa peningkatan intensitas dan aktivitas gerakan (politik) Islam di berbagai belahan dunia Islam. Ada pendapat bahwa semangat Perang Salib kembali berkobar. Memang, “Adalah kesalahan fatal bila menyangka semangat perang salib telah punah,”kata Murad W. Hoffman.

Sumber Permusuhan

Apa yang menjadi sumber permusuhan Barat terhadap Islam dewasa ini, sehingga mereka mengerahkan segala daya upaya demi menghancurkan Islam dan kaum Muslimin? Pada garis besarnya ada dua sebab:

1. Dendam Historis

Selama berabad-abad, barat tunduk di bawah hegemoni Khilafah Islam . Kebencian kaum Kristen Barat pernah meledak dalam bentuk pengobaran api perang terhadap Islam, yaitu dengan terjadinya Perang Salib (1906-1291) yang bertujuan utama penghancuran Islam. Akan tetapi, melalui peperangan itu tersebut umat Islam gagal dilumpuhkan, bahkan kemenangan lebih banyak diraih pasukan Islam. Trauma perang tersebut berdampak pada tertanamnya rasa antipati dan saling curiga di kedua belah pihak.

Perang salib membentuk fondasi pertama dan esensial untuk memantapkan sikap Barat terhadap Islam. Dendam Perang Salib ini belum padam. Kebencian dan rasa permusuhan Barat terhadap Islam kembali muncul ke permukaan setelah Perang Dingin berakhir. Hal itu misalnya terungkap lewat ucapan Menlu Italia menjelang sebuah persidangan NATO di London, “Benar, Perang Dingin antara Barat dan Timur (Komunis Uni Soviet) memang telah berakhir, tetapi timbul lagi pertarungan baru, yaitu pertarungan antara Barat dan dunia Islam.” (Newsweek, 2 Juli 1990).

2. Kesalah Pahaman Masyarakat Barat

Masyarakat Barat umumnya melakukan kesalahan dalam memahami Islam. Hal ini terjadi karena masyarakat Barat umumnya mempelajari dan memahami Islam dari buku-buku para orientalis, sedangkan para orientalis mengkaji islam dengan tujuan untuk menimbulkan kesalah fahaman terhadap Islam atau menyelewengkan ajaran Islam. Selain adanya motif politik yaitu untuk mengetahui rahasia kekuatan umat Islam  yang tidak lepas dari ambisi imperealis Barat untuk menguasai Dunia Islam. Sehingga pada umumnya, ketika mereka berbicara tentang Islam, pandangan dan analisa para orientalis tidak objektiv dan tidak fair, sudah bercampur dengan subjektivisme dan kepentingan tertentu. Karenanya pandangan mereka bias dan berat sebelah. Hasilnya adalah kesalahpahaman terhadap Islam di dunia Barat. Citra Islam yang tampak di mata orang-orang Barat adalah kekejaman, kekerasan, fanatisme, kebencian, keterbelakangan, dan entah apa lagi.

Kekeliruan Barat dalam memahami Islam yang lain adalah menyamakan Islam dengan perilaku individu umat Islam. Misalnya, ketika ada orang atau sekelompok orang Islam melakukan kekerasan, cap “Teroris” pun dilekatkan pada Islam tanpa mau tahu mengapa aksi kekerasan itu terjadi. Karenanya populerlah istilah “Terorisme Islam”. Bagi Barat Islam adalah genderang perang Osama, runtuhnya WTC, agresi Saddam atas Kuwait, “bom bunuh diri” dan sebagainya.

Kesalah-pahaman ini semakin diperparah oleh gencarnya serangan propaganda Barat melalui berbagai media massanya untuk memojokkan agama dan Umat Islam. Dalam pengemasan berita tentang umat Islam, Barat kerap mengekspos cap-cap seperti ”fundamentalisme”, “ekstrimisme”, “radikalisme”, bahkan “terorisme” yang arahnya jelas: untuk mendiskreditkan Islam!

Phobia Islam (Islamophobia, ketakutan terhadap Islam)  adalah produk utama propaganda media massa Barat. Yang lebih parah, fobia Islam ini juga tidak hanya melanda masyarakat Barat, tetapi juga sebagian (besar?) Umat Islam. Mereka (dan ini sebuah ironi) takut jika syariat Islam yang notabene ajaran agamanya sendiri, menjadi landasan bagi pembentukan system pemerintahan negara. Mereka merasa ngeri bila hukum Islam diberlakukan, karena yang ada difikiran hanyalah hukum rajam bagi pezina, cambuk bagi pemabuk, potong tangan bagi pencuri atau hukum mati bagi pembunuh.

Dunia Islam bagi Barat yang kawasannya membentang dari Maroko hingga Merauke, letak geografisnya sangat strategis bagi kepentingan politik dan militer. Kekayaan alamnya, khususnya minyak, merupakan kebutuhan vital bagi industri-industri Barat. Bisa dikatakan bahwa roda perekonomian Negara-Negara Barat sangat tergantung pada minyak yang ada di sebagian besar Negara-Negara Islam Timur Tengah, sebagai tempat “kelahiran” dan “pusat Islam”,merupakan pemasok terbesar kebutuhan minyak dunia. Itulah salah satu alasan mengapa Barat merasa “wajib” menaklukkan dunia Islam.

Bentuk Permusuhan

Bentuk-bentuk permusuhan Barat terhadap Islam menurut Murad W. Hofman meliputi tiga hal berikut.

1. Penyia-nyiaan. Barat bersikap masa bodoh terhadap keberhasilan peradaban umat Islam yang mengagumkan di Andalusia dari abad ke-15. tokoh ilmuwan muslim diabaikan  dalam penulisan sejarah dunia.

2. Penerapan Double Standard, misalnya dalam penggunaan istilah “fanatik Muslim”, namun kita tidak pernah mendengar istilah “fanatik Kristen” atau “fanatik Sosialis”. Barat menisbatkan tindakan Saddam Hussein dengan Islam, tapi tidak ada penisbatan kejahatan Hitler dengan Kristen atau Katolik. Barat, atas nama demokrasi membela penguasa Haiti yang terpilih secara demokratis. Tapi membisu ketika FIS yang juga menang dalam pemilu di Al Jazair diberangus junta militer, bahkan memboikot HAMAS di Palestina yang juga menang secara demokratis. Barat juga diam ketika dalam kasus Bosnia dan Palestina, atau ketika Rusia membantai muslim Chechnya. Barat pun bungkam dengan jargon HAM-nya atas kasus Kashmir, Moro, Pattani, dan lain-lain.

3. Permusuhan ateisme-rasialisme. Sekarang ini berkembang ketakutan orang-orang Eropa akan berdirinya pemerintahan Islam, takut bahwa ia akan tidak sesuai dengan pemerintahan sekuler di Barat. Persangkaan mereka salah sekali karena pemerintahan Barat adalah Republik Kristen Demokrat.

Permusuhan antara kebenaran dan kebatilan, kejahatan dan kebaikan merupakan sunnatullah yang pasti akan terus berlaku hingga hari kiamat. Begitu juga permusuhan kaum kuffar terhadap Islam dan umat Islam, mereka tidak akan berhenti untuk terus mengerahkan segala daya upaya demi menghancurkan Islam. Dan sudah jauh hari Al Qur’an memberikan sinyalemen kepada umatnya.

“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah senang kepadamu hingga kamu mengikuti millah mereka…” (al Baqarah: 120)

“… Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sehingga mereka (dapat) memurtadkan kamu dari agamamu jika mereka sanggup…” (al Baqarah: 217).

Akan tetapi kita tetap optimis, Islam akan tetap eksis. Seperti tulis Hoffman, “Saat ini tidak ada seorangpun yang berani memprediksikan bahwa Islam akan lenyap. Bahkan sebaliknya, Islam akan terus berkembang, bahkan meledak!” dan yang pasti, Allah akan terus menjaga dien ini. Wallahu a’lam.

*Disarikan dari buku Demonologi Islam, karya Asep Syamsul M. Romli (2000). Dengan sedikit perubahan.

One response to ““Bahaya Hijau””

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Terkait

Tulisan Rekomendasi

Tulisan Terbaru

Tulisan Terpopuler

No Content Available