Jangan Hanya Bisa ‘Mengklaim’ !!

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram

Ikhwah para pembaca yang dimuliakan Alloh pada dewasa ini kita banyak dibingungkan para klaimer, mereka berlomba me’market’kan diri dan kelompoknya dengan gelar kebanggaan yang disematkan kepada diri dan kelompok mereka sebagai kelompok yang paling Ahlussunnah Wal Jama’ah, paling ber’Aqidahkan Aqidah salaf, makanya kami memangdang pentingnya dijelaskan beberapa prinsip Ahlussunnah Wal Jama’ah-khususnya dalam metode kritik(tabdi’, tafsiq dan takfir) dan beberpa problem umat Islam yang berhasil kami petakan dan mencoba mendiskusikannya kepada pembaca solusinya, mudah-mudahan kita termasuk kelompok Thoifah Al-Manshurah yang dijanjikan akan memimpin kembali kejayaan umat Islam diakhir zaman, amin.

Ahlus Sunnah dalam mengkritik kelompok yang menyelisihi Sunnah

1. Dalam mengkritisi  dan menilai person-person atau kelompok-kelompok yang menyelisihi Manhaj(metodologi) Ahlussunnah Wal Jama’ah wajib mendasarkan pada ilmu(khazanah pemikiran ulama’ terdahulu) dan pengetahuan yang berdasar terhadap pelaku dan diimbangi  dengan prinsip keadilan dalam mengkomentari kesalahan manusia. Ibnu Taimiyah berkata dalam Minhajus Sunnah An-Nabawiyah 4/337, “Dalam mengkomentari manusia wajib dengan ilmu dan keadilan; bukan dengan kebodohan dan kezhaliman seperti keadaan ahlul bid’ah.”

2. Barang siapa menyelisihi sunnah karena ijtihad yang salah setelah ia mencurahkan segala kemampuan dalam perkara dengan metodologi dan mekanisme istimbat(pengeluaran hukum) dan istidlal(pengambilan dalil) yang benar, maka kesalahannya diampuni.

Barang siapa menyelisihi sebagian perkara aqidah karena ijtihad setelah ia mencurahkan segala kemampuan dalam perkara itu, maka ia tidak dibid’ahkan dan tidak diisolir karena kesalahannya meskipun dikatakan bahwa pendapatnya itu bid’ah. Sebab, terjerumus ke dalam bid’ah tidak mengharuskan pelakunya menjadi mubtadi’ (tukang berbuat bid’ah/ahli bid’ah) karena tabdi’ (pembid’ahan personal) secara person membutuhkan keberadaan syarat dan ketiadaan penghalang jatuhnya vonis bid’ah.

Adz-Dzahaby berkata dalam Siyar A’lamin Nubala’ 14/40, “Jikalau setiap imam bersalah dalam ijtihadnya dalam suatu perkara dengan kesalahan yang diampuni kita cela, bid’ahkan, dan isolir; maka tidak akan selamat dalam penilaian kita Ibnu Nashr, Ibnu Mundih, dan imam yang lebih senior dari mereka berdua. Allah Maha Memberikan petunjuk kepada hamba-Nya kepada kebenaran dan Ia Maha Penyayang. Kita berlindung kepada Allah dari hawa nafsu dan perpecahan.”

4. Barang siapa membuat ‘pendapat baru dalam agama’ yang dengannya ia memecah jama’atul muslimin, memberikan loyalitas dan memusuhi karenanya; maka ia dibid’ahkan dan dianggap sesat setelah ditegakkan hujjah(penjelasan) kepadanya dengan keberadaan syarat dan ketiadaan penghalang vonis.

5. Barang siapa menyelisihi hukum-hukum Al-Kitab dan As-Sunnah dari kalangan ahlul kaba-ir (pelaku dosa besar) karena mengikuti hawa nafsunya dan memusuhi ketentuan hukum Allah, maka ia adalah orang yang menganiaya diri sendiri dan termasuk ahlul wa’id (orang yang diancam siksa neraka).

Barang siapa menyelisihi hukum-hukum Al-Kitab dan As-Sunnah sedangkan ia menyembunyikan kekufuran dan kebencian kepada kaum Muslimin, maka ia adalah orang munafik zindiq seperti kaum zindiq Qaramithah Al-Bathiniyah, para komunis, dan para sekuleris.

Ahlussunnah dalam berinteraksi dengan pelaku bid’ah

1. Sesungguhnya interaksi dengan para penyelisih dari kalangan ahlul bid’ah berbeda-beda antara mengisolir dan tetap mempergauli dengan ramah berdasarkan maslahat atau mafsadat yang diakibatkannya dan berdasarkan tingkatan bid’ah yang dilakukannya.

2. Membedakan dalam interaksi dengan ahlul bid’ah antara para pemimpin(kyainya) dan kalangan awamnya(pengekornya) serta antara orang yang menyembunyikan bid’ahnya dan yang menampakkan atau mendakwahkannya. Hal itu adalah sebagai berikut :

Bid’ah yang pelakunya tidak divonis kafir seperti aliran Murji’ah dan Syi’ah Mufadhdhilah.

1. Bid’ah yang para ulama berselisih pendapat dalam mengkafirkan pelakunya, seperti sekte Khawarij Al-Mariqah dan sekte Rafidhah.

2. Bid’ah yang tidak ada perselisihan lagi di kalangan ulama dalam mengkafirkan pelakunya, seperti sekte Jahmiyah ortodoks.

3. Ahlus sunnah berpendapat tentang sahnya shalat di belakang ahlul bid’ah dan orang lalim (yang banyak berbuat dosa) jika tidak memungkinkan shalat kecuali di belakang mereka.

Pada prinsipnya dalam berinteraksi dengan ahlul bid’ah adalah mengingkari semua tingkatan bid’ah yang telah disebutkan oleh para ulama tadi. Akan tetapi, tidak ada halangan untuk memenuhi undangan mereka jika ada maslahat untuk Islam dengan syarat tidak untuk memperkokoh posisi mereka.

Adil dalam menyikapi kelompok-kelompok yang berbasis Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah

Seluruh element ahlus sunnah harus memiliki pandangan yang lurus dan adil dalam berpendapat bahwa perbedaan orientasi kerja jama’ah-jama’ah ahlus sunnah yang berbeda-beda skala prioritas dan skala kepentingan atau perbedaan situasi dan kondisi yang dihadapinya merupakan sarana untuk saling melengkapi dan memperkuat; bukan malah menjadi penyebab untuk saling menghancurkan dan memperlemah selama perbedaan itu masih sesuai dengan metodologi ahlus sunnah, dalam bingkai sunnah dan pendapat para ulama salafy, serta jauh dari bid’ah dan manhaj-manhaj yang menyelisihi sunnah.

Dan element-element Ahlus sunnah mesti menganggap segala usaha yang dilakukan orang-orang yang tulus dalam gerakan Islam, baik yang bersifat dakwah, reformasi, ilmiyah, keagamaan dan lainnya, merupakan usaha yang dibenarkan secara syar’i. Dan yang dilakukan oleh seluruh aliran gerakan Islam, dari jamaah Tabligh, Salafi, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan aliran-aliran gerakan Islam lainnya, demikian pula usaha yang dilakukan oleh para ulama, da’i dan reformis yang independen, di seluruh lapangan gerakan Islam, merupakan gerakan yang patut disyukuri dan mendapatkan tanggapan positif dalam menjaga agama kaum muslimin dan memperbaiki kondisi mereka. Dan mengajak mereka semua untuk saling bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan, serta dalam mendukung gerakan perlawanan.                   Kita semua juga jujur menganggap usaha yang mereka lakukan dalam berdakwah merupakan usaha yang mendukung dan memperkuat akar-akar perjuangan di tengah-tengah umat dan melindungi unsur-unsurnya. kita mengajak mereka semua untuk melupakan titik-titik perbedaan kaum muslimin pada periode ini, dan mengkonsentrasikan pada bahaya yang tengah mengancam di seluruh bidang.                          

Problem yang melilit ummat

Kalau kita merenungi bersama, paling tidak, penyakit terbesar yang harus segera dirasakan ummat islam ada tiga hal, yaitu :

1. Merajalelanya kesyirikan di tengah-tengah umat Islam. Kesyirikan dengan segala bentuk dan jenisnya —syirik qubur(yang berkaitan dengan praktek ibadah  mahdhoh) maupun syirik qushur(yang berkaitan dengan syirik pada kekuasaan)—telah menjadi sistem dan hukum yang memperbudak kaum muslimin. Syirik yang lahir dari konsep paganis modern seperti demokrasi, nasionalisme, sekulerisme, dan humanisme telah menjadi aturan kehidupan (way of life) yang dianut mayoritas umat manusia —termasuk umat Islam–.

2. Hilangnya penguasa muslim (khalifah syar’i/khilafah islamiyah) yang mengatur dunia dengan hukum Allah Ta’ala, menjaga aqidah, wilayah dan kehormatan kaum muslimin, yang menganyomi Islam dan kaum Muslimin. Hal ini menyebabkan dien Allah dilemparkan ke sudut-sudut kehidupan dan kaum muslimin berada dalam tieh, sebagaimana tieh bani Israil. Agama, nyawa, harta dan kehormatan kaum muslimin menjadi barang mainan kaum kafir, harganya sangat begitu murah.

3. Perpecahan kaum muslimin dalam berbagai jama’ah dan partai yang saling bermusuhan dan membelakangi.

Inilah tiga penyakit terbesar umat Islam dewasa ini. Selain ketiganya, terdapat banyak penyakit lain seperti kebodohan umat Islam terhadap ajaran Islam yang benar, angka kemiskinan yang sangat besar, SDM yang sangat rendah dan kebobrokan moral.

Pihak yang paling diharapkan mampu mengobati berbagai penyakit kronis ini dan menjadi pioner usaha membumikan pemahaman islam yang benar lagi kaffah adalah kalangan aktivis Islam (berbagai jama’ah / harakah / hizb Islam). Namun sayang, sebagai pihak yang banyak diharapkan, kalangan aktivis Islam sendiri juga dihadapkan dengan berbagai kendala yang menyebabkan tersendatnya peran serta mereka dalam membumikan islam. Kendala-kendala tersebut antara lain :

1. Terlalu banyaknya jumlah berbagai pergerakan (kelompok/harakah/jama’ah/partai) Islam. Setiap saat pergerakan Islam yang baru muncul semakin banyak, padahal banyak sekali di antaranya yang lahir tanpa adanya alasan syar’i yang dibenarkan. Ini mengakibatkan kebingungan kaum muslimin untuk memilih.

2. Perbedaan akidah, pemikiran dan pandangan politik antar berbagai jama’ah, sehingga sering kali mengakibatkan pertentangan yang tidak bisa dikompromikan.

3. Perbedaan pandangan para du’at dan jama’ah taentang status thawaghit dan pemerintahan yang menguasai negeri-negeri kaum muslimin hari ini.

4. Banyaknya usaha-usaha mengkaburkan nilai-nilai Islam yang benar —(seperti dari kalangan sekuler, orientalis, JIL, dan lain-lain), sehingga memaksa para du’at untuk meluangkan banyak waktu, tenaga dan perhatian mereka untuk bekerja keras menyingkap syubhat.

5. Usaha terus menerus dari media massa dan elektronik barat untuk mengaburkan gambaran Islam yang benar dan cenrung tidak adil dalam menggambarkannya.

6. Kesepakatan internasional (ASEAN, NATO, PBB, lebih dari 95 % anggota PBB terlibat usaha memerangi Islam) untuk memerangi Islam, dengan seluruh sarana yang mereka miliki dengan mengatas namakan perang melawan teroris dan fundamentalis.

7. Banyak di kalangan para du’at sendiri tidak mengerti tauhid dengan  benar, sehingga menyebabkan mereka terjatuh ke dalam kesyirikan.

8. Pemerintah sekuler berhasil menarik dukungan banyak ulama dan tokoh Islam untuk mendukung mereka atau minimal bersikap netral dan tidak ambil pusing dengan perseteruan kelompok Islam VS pemerintah sekuler

9. Tidak adanya kesepakatan antar aktivis muslim tentang sarana ideal dan masyru’(sesuai syariat dan sunnah) untuk tahgyir(perubahan), tamkin(berkuasa) dan memulai kehidupan Islam baru sesuai minhaju nubuwah(konsepsi nabi).

10. Tidak adanya qiyadah rabbaniyah syar’iyyah(pemimpin robbani secara syariat) yang menyatukan dan diakui secara luas oleh umat Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Terkait

No Content Available

Tulisan Rekomendasi

Tulisan Terbaru

Tulisan Terpopuler

No Content Available