Jihad Di Jalan Allah Puncak Ketinggian Islam

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram

Mukaddimah

Majelis Mujahidin sejak di deklarasikan pada 7 Agustus 2000 M, telah menetapkan misi perjuangannya menempuh jalan Da’wah dan Jihad. Karena Da’wah dan Jihad ini merupakan manhaj yang telah ditempuh oleh Nabi dan para sahabat-sahabatnya yang merupakan generasi terbaik ummat ini, kemudian diteruskan oleh generasi terbaik berikutnya yaitu Taabi’ien dan Tabi’ut tabi’in. Dan inilah manhaj terbaik didalam penegakan syari’ah Islam, sedangkan semua metoda yang tidak menempuh  metoda ini sudah pasti menyalahi sunnah yang soheh dan menyimpang dari kebenaran. Oleh sebab itu Majelis Mujahidin akan terus konsekuen menempuh jalan ini ,dan tidak akan menempuh jalan selainnya Insya Allah. Rasulullah saw telah memberi jaminan bahwa tha’ifah (kelompok) yang konsekuen menempuh jalan ini akan diberi pertolongan sehingga hari kiamat. Beliau bersabda:

“Akan senantiasa ada diantara ummatku sekelompok orang yang tampil membela kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang mentelantarkan (tidak menolong) mereka, sehingga datang ketetapan  Allah, sedang mereka tetap dalam keadaan demikian. (HR Muslim: 3544, dari Tsauban).

Sabdanya lagi:

“Akan senantiasa ada diantara ummatku sekelompok orang yang berperang membela kebenaran, menang atas orang yang memusuhi mereka, sehingga orang terakhir diantara mereka memerangi Al Masih Dajjal (HR. Abu Dawud: 2125).

Dengan misi inilah Islam telah menjadi mercusuar dipenjuru dunia, dia tampil sebagai da’i penegak kebenaran dan mujahid pejuang kebenaran dan akan terus seperti ini sehingga datangnya hari kiamat. Orang-orang Mukmin yang shaleh meyakini bahwa perkara ini merupakan kebenaran pasti, tidak terdapat keraguan didalamnya. Namun begitu masih ada sebagian kaum Muslimin yang cara berfikirnya terkena penyakit sepilis, mereka menolak dan meniadakan konsep jihad dalam kehidupan Islam, bahkan ada kecenderungan untuk memisahkan jihad dari konsep Islam, lalu melabelkan para mujahid penegak syari’ah sebagai pelaku bid’ah, khawarij dan teroris. Inilah para pendusta yang dilaknat oleh seluruh makhluk sehingga hari kiamat. Para penegak demokrasi batil, sesat dan hina mereka puji dan diberi dukungan padu, sementara pejuang syari’ah dicerca dan di fitnah. Telah datang sebuah riwayat dari Salamah bin Nufail Al Kindi, dia berkata: “ketika aku sedang duduk di dekat Rasulullah, tiba-tiba ada seorang lelaki bertanya; “Wahai Rasulullah, orang-orang sudah tidak lagi menguraus kuda mereka dan meletakkan senjata mereka, dan mereka mengatakan: “Tak ada lagi jihad, perang sudah usai!” Rasulullah menghadapkan wajahnya dan berkata:

“Meraka dusta!!. Sekarang telah datang masa perang, dan akan senantiasa ada di antara umatku sekelompok orang yang berperang membela kebenaran, dan Allah memalingkan hati banyak kaum pada mereka dan memberi rezki mereka dari (harta musuh) mereka hingga kiamat tiba, sehingga janji Allah datang. Kuda itu tertambat pada ubun-ubunnya kebaikan hingga hari kiamat” (HR. An Nasa’i: 3505)

Jihad Fie Sabilillah Puncak ketinggian Islam

Oleh karena Jihad Fie Sabilillah merupakan puncak tertinggi Islam dan kubahnya, maka para pelakunya diberikan derajat tertinggi di syurga, sebagaimana mereka juga memiliki kedudukan tinggi di akhirat. Maka merekalah pula yang tertinggi didunia dan diakhirat. Dan adalah Rasulullah saw berada diposisi puncak tertinggi darinya. : Rasulullah saw bersabda:

“Puncak ketinggian Islam adalah Al-Jihad, tidak akan mencapainya melainkan yang lebih afdhal dari mereka.” (HR Thabrani – Dari Abu Dzar ra, lihat al Jihad, Ibnu al Mubaarak 1/153 – no: 15)

“Pokok urusan ini adalah Islam, dan barangsiapa yang telah Islam, maka selamatlah ia, penegak atau pendukungnya adalah shalat dan puncak ketinggiannya adalah jihad, tidak akan mencapainya melainkan yang lebih afdhal daripada mereka.” (HR Thabrani dalam Mu’jam al Kabiir 20/55 – no: 96)

Beliau telah mengerahkan seluruh potensinya untuk berjihad dijalan Allah dengan sebenar-benarnya, baik dengan hati nurani, dakwah, penjelasan, pedang dan lisan. Adapun waktu-waktunya semuanya diwakafkan dimedan jihad, dengan hati, lisan dan tangannya. Oleh karena itu beliau memiliki kedudukan tertinggi dialam semesta,dan paling mulia diantara selainnya disisi Allah swt.

Syarat-syarat Jihad Fie Sabilillah.

Tidak sempurna jihad seseorang kecuali dibarengi dengan hijrah, dan tidak sempurna hijrah tersebut kecuali dengan adanya iman. Orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah adalah mereka yang melaksanakan tiga perkara tadi, Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah (2): 218)

Diketahui bahwa iman menjadi keharusan atas setiap orang, sehingga ia diharuskan pula dua hijrah ada waktunya; hijrah kepada Allah dengan tauhid, ikhlas, inabah (kembali), tawakkal, takut, harap, cinta, dan taubat, dan hijrah kepada Rasul-Nya dengan mengikutinya, patuh terhadap perintahnya, membenarkan apa yang disampaikannya, mengutamakan perintah dan khabar atas perinta dan khabar selainnya. Beliau bersabda:

“Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR. Muslim)

Agar jihad Islami memiliki kualitas tinggi, dan berperanan serta berfungsi meraih kejayaan dan kemuliaan untuk tegaknya syari’ah Allah swt dibumi, yang membedakannya dengan perang-perang lainnya, yang dilakukan sebagian manusia atau negara atau bangsa sebagian melawan yang lain dengan motif duniawi seperti mencari kekayaan dunia atau karena dendam pribadi atau untuk meluaskan wilayah kekuasaan dengan cara-cara biadab, rendah, keji dan hina, maka para ahli ilmu telah menggariskan beberapa syarta jihad fie sabilillah. Adapun syarat-syarat jihad di jalan Allah swt yang paling penting antara lain ialah :

Syarat Pertama :

Jihad tersebut haruslah murni di jalan Allah swt dan meninggikan kalimat-Nya, bukan karena riya’ atau sum’ah (ingin didengar), atau syirik atau nifak. Dan ia adalah salah satu wasilah dakwah kepada dienullah. Dan ia merupakan ibadah yang murni hanya untuk Allah swt, tidak tercampuri noda yang akan menggugurkannya, dan tidak tercampur kotoran yang akan mengeruhkannya. Bersih sebersih air hujan, dan putih seputih lembaran kertas. Yang demikian itu supaya Allah swt menerima serta melipat-gandakan ganjaran dan pahalanya, sebab Allah swt tidak akan menerima suatu amal kecuali jika amal itu benar-benar murni dikerjakan untuk-Nya dan untuk mengharapkan keridhaa-Nya.

Rasulullah saw bersabda :

” Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal, kecuali jika amal itu ikhlas (dikerjakan untuk-Nya, dan untuk mencari wajah-Nya.” (HR. An Nasa’I : 3089)

Maka dari itu, jihad Islam selalu disertai dengan kalimat “Fi sabilillah” setiap kali disebut dalam kitabullah atau dalam hadits Rasul saw. Untuk menekankan perwujudannya dalam syariat, Allah swt berfirman :

“Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’ (4): 74)

Allah swt berfirman :

“Orang-orang yang berimam berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An-Nisa’ (4): 76)

Dalam sebuah hadits diriwayatkan :

“Seorang Arab Badui datang menemui Nabi lalu bertanya: “Ya Rasulullah, ada seorang yang berperang untuk mendapatkan ghanimah, dan ada seorang yang berperang supaya disebut-sebut orang, dan ada seorang yang berperang agar dilihat kedudukannya” dalam riwayat lain dikatakan “Berperang karena berani dan berperang karena semangat”, dan dalam riwayat lain dikatakan: “Berperang karena marah.” Siapa di antara mereka yang berperang di jalan Allah?” Maka Rasullullah menjawab : “Barang siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi, maka dia berada di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya manusia yang pertama kali diambil perhitungannya di hari kiamat adalah orang-orang yang mati syahid. Maka didatangkanlah dia, lalu Allah mengenalkan dia akan nikmat-Nya sehingga dia mengetahuinya. Lalu Allah bertanya: “Apa yang dahulu engkau kerjakan?” Dia menjawab : “Aku berperang di jalan-Mu sehingga mati syahid.” Allah berfirman : “Engkau dusta, akan tetapi engkau berperang agar dikatakan, ‘Dia pemberani’.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menindaknya. Maka diseretlah orang tersebut dengan wajah tertelungkup di bawah dan akhirnya dilemparkan ke dalam api naar (neraka).” (HR. Muslim: 3527)

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata : “Pernah ada seseorang berkata : “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku berperang ingin mencari wajah Allah dan ingin pula agar tempat tinggalku dilihat (diketahui) orang. ” Rasulullah diam tidak menjawab perkataan orang tersebut hingga turun ayat:“…Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-Nya.(Al-Kahfi (17): 120)

Aduhai, alangkah kecewa dan malangnya nasib seseorang yang telah mencapai maqam tertinggi dalam amal ibadahnya, hanya karena tidak murni niat dan tujuannya akhirnya diseret keneraka. Karenanya seorang mujahid di jalan Allah swt mestilah memurnikan niatnya dari setiap tendensi pribadi atau tujuan duniawi atau keinginan diri atau kecondongan daerah supaya mendapat kemuliaan yang setinggi-tingginya.

Syarat Kedua :

Tidak melakukan peperangan kecuali setelah menyampaikan Dienul Islam kepada orang-orang kafir dan menyeru mereka untuk beriman. Jika mereka tetap bersikukuh tetap mempertahankan kekafiran mereka dan menolak Dienul Is­lam, barulah mereka diperangi, supaya mereka tahu atas dasar apa mereka diperangi. Dan jika mereka belum kesampaian dakwah, maka haram memerangi mereka. Sampainya dakwah sebelum masa perang itu sudah dianggap cukup, dan tidak wajib memperbaharuinya menjelang perang, hanya saja hal tersebut dipandang baik (untuk dikerjakan).

Imam Malik rahimahullah dalam kitab “Balaghatus Salik li Aqrabi Al-Malik ala Madzhab Al-Imam Malik” bab : Jihad, mengatakan akan wajibnya menyeru mereka kepada Is­lam meski (dakwah Islam) telah sampai kepada mereka, sepanjang mereka tidak memerangi kita lebih dahulu.Jika kaum Muslimin telah diperangi maka hilanglah syarat ini.

Dan tidak disyaratkan memberikan tempo waktu kepada mereka untuk merenungkan dan memikirkan akan kebenaran Dienul Islam, oleh karena belum pernah dinukil riwayat dari Rasulullah saw bahwa beliau memberi tempo waktu sejam atau lebih kepada orang-orang kafir agar supaya mereka merasa puas terhadap kebenaran dakwah (Islam), akan tetapi dakwah beliau dahulu adalah dengan lesan yakni beliau menyeru dalam kumpulan orang-orang musyrik dengan ucapannya: “Wahai manusia, ucapkanlah ‘ Laa ilaah illallah” niscaya kalian akan beruntung…” dan ucapan-ucapan lain yang serupa itu, dengan memberitahukan kepada mereka bahwa dia adalah Rasulullah saw, atau beliau mengutus seseorang yang akan menyampaikan dakwah tersebut darinya.”

Adapun para raja: maka sesungguhnya beliau mengutus kepada mereka utusan dari para sahabatnya untuk membawa surat-suratnya, dakwah tersebut sampai kepada mereka melalui tulisan. Nabi saw menulis surat kepada Heraklius, raja Romawi, yang isinya :

“Bismillahirahmaanirrahim, dari Muhammad utusan Allah kepada Heraklius, orang besar Romawi. Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du : Sesungguhnya aku menyerumu dengan seruan Islam : Islam-lah, niscaya engkau akan selamat, Allah akan memberikan pahala kepadamu duakali lipat. Jika engkau berpaling, maka sesungguhnya engkau akan menanggung dosa orang-orang Romawi.” (HR. Bukhari: 4188 dan Muslim: 3322)

“Katakanlah : “Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu-pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Ilah selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali lmran (3): 64.

Tentang bagaimana bentuk dakwah yang disampaikan, berikut ini sebagaian dari contohnya. Rasulullah saw memandang bahwa surat yang disampaikan kepada para raja sebagai dakwah sehingga dalam perang Tabuk, Rasulullah saw tidak mengulang lagi dakwah kepada Islam setelah suratnya yang tersebut di atas (sampai kepada mereka). Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan; bahwasannya beliau memerangi Bani Musthaliq yang melakukan penyerangan ketika mereka sedang memberikan minum ternak-ternak piaraan mereka. Beliau membunuh pejuang-pejuang mereka. (HR. Bukhari dan Muslim)

Al-Bukhari, Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi mengeluarkan satu riwayat bahwa Al-Mughirah bin Syu’bah mengatakan pada gubernur raja Kisra di Nehawand: Nabi kami, utusan Rabb kami, memerrintahkan kami untuk memerangi kalian sampai kalian menyembah kepada Allah saja, atau kalian membayar jizyah. (HR. Bukhari, Muslim dan Baihaqi)

Imam Ahmad rahimahullah berkata, dari Salman Al-Farisi, bahwasanya ia sampai pada sebuah benteng atau kota (Persia), lalu ia berkata kepada sahabat-sahabatnya : “Biarkan aku menyeru mereka sebagaimana aku telah melihat Rasulullah menyeru mereka ” Lalu Salman menyeru mereka dengan suara keras: “Sesungguhnya dulu aku adalah salah seorang dari golongan kalian, lalu Allah memberiku petunjuk kepada Islam. Jika kalian masuk Islam, maka kalian akan memperoleh hak sama seperti yang kami peroleh, dan kalian memikul kewajiban seperti yang kami pikul. Dan jika kalian menolak, maka bayarlah jizyah sedangkan kalian dalam keadaan hina. Dan jika kalian tetap menolak, maka kami akan memaklumatkan perang terhadap kalian secara adil.” Lalu dia membaca:

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS. Al-Anfal (8): 58)

Salman rahimahullah melakukan hal tersebut pada mereka selama tiga hari, ketika sampai hari keempat, maka kaum Muslimin menyerbu mereka di pagi hari dan akhirnya dapat menaklukkannya, dengan pertolongan Allah  swt .

Mazhab fiqih yang empat menyatakan akan wajibnya menyampaikan dakwah Islam kepada orang-orang kafir sebelum memerangi mereka, selama mereka tidak menyerang kaum Muslimin dahulu, dan disunnahkan memperbaharuinya (yakni penyampaian dakwah Islam) menjelang perang apabila tidak dikhawatir-kan bahaya.

Imam Malik rahimahullah berkata: “Wajib memperbaharuinya, meski telah sampai (dakwah Islam) kepada mereka. selama mereka tidak memulai peperangan terhadap kita terlebih dahulu. Jika mereka menyambut seruan Islam dan masuk Islam, maka mereka dibiarkan di tempat yang aman, dan jika mereka menolaknya, maka mereka harus membayar jizyah, mereka memperoleh hak dan kewajiban yang sama dengan kita, dan jika mereka menolak (membayar jizyah), maka mereka akan diperangi dan dibunuh. “

Syarat Ketiga :

Adanya perjanjian dan kesepakatan antara orang-orang kafir dengan kaum Muslimin mengenai berlakunya peperangan atau menuntut tidak adanya perang. Allah swt memerintah untuk menyempurnakan perjanjian dan menepatinya. Akan tetapi jika mereka melanggar perjanjian dan kesepakatan. mereka harus diperangi.

Allah swt berfirman :

“(Inilah pernyataan) pemutusan dari Allah dari Rasul-Nya kepada orang-orang musyrik yang kalian telah mengadakanperjanjian (dengan mereka).” sampai kepada firman Allah :“Kecuali orang-orang musyrik yang kamu mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesung-guhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At-Taubah (9) : 4)

Allah swt berfirman :

“Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (QS. At-Taubah (9) : 12)

Dalam buku Sirah Ibnu Hibban dituturkan :

“Bahwasannya Nabi mengadakan perjanjian damai dengan kaum Quraisy di Hudaibiyyah yakni menghentikan peperangan selama 10 tahun. Bani Khuza’ah masuk menjadi sekutu Nabi dalam perjanjian, sementara Bani Bakr masuk menjadi sekutu Quraisy.

Perjanjian damai itu berlangsung pada tahun ke enam Hijriyyah, (tatkala kaum musyrikin melanggar perjanjian mereka dengan Rasulullah, yakni ketika Bani Bakr menyerang Bani Khuza’ah dibantu beberapa orang Quraisy, dan mereka membunuh berapa saja yang dapat mereka bunuh, maka beliau memerangi mereka hingga kota Mekah dapat beliau taklukan.

Berkata Muhammad bin Ishak, “Rasulullah menulis perjanjian antara golongan Muhajirin dan golongan Anshar dan termasuk di dalamnya orang-orang Yahudi. Beliau mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka serta memberikan pengakuan terhadap Dien dan harta kekayaan mereka, serta menentukan syarat kepada mereka :

“Bismillahirrahmaanirrahim, ini adalah naskah perjanjian dari Muhammad, Nabi yang ummi, antara kaum Muslimin dan kaum mukminin dari Quraisy dan Yatsrib dan orang-orang yang mengikuti mereka dan meng-gabungkan diri dengan mereka dan berjihad bersama mereka, bahwasannya mereka adalah umat yang satu, diluar yang lain.” (Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam)

Perjanjian tersebut berlangsung pada tahun pertama Hijriyyah, adapun diantara isi perjanjian tersebut ialah:

  • Hidup berdampingan secara damai antara orang-orang yang terikat perjanjian.
  • Saling memberikan nasehat antara sesama mereka.
  • Saling tolong-menolong antara sesama mereka.
  • Memberikan pertolongan kepada yang teraniaya.
  • Mempertahankan bersama kota Madinah apabila diserbu atau diserang musuh.
  • Berhukum pada Rasulullah e pada saat timbul perselisihan.

Mengingat orang-orang Yahudi melanggar perjanjian pada waktu perang Ahzab, maka Rasulullah saw memerangi mereka sesudahnya dan mengusir mereka.

Adapun perjanjian antara individu-individu muslim dengan orang-orang kafir secara keseluruhan, maka tidak sah, demikian pula dalam hal pemberian perlindungan dan jaminan keamanan. Oleh karena pada pengabsahannya dan pembolehannya berarti mengesampingkan Amir Mujahidin atau wakilnya, melampaui batas dan bertindak lancang terhadap wewenangnya, serta menghentikan jihad secara total. Akan tetapi perjanjian antara individu-individu muslim dengan individu-individu kafir -sejumlah kecil dari mereka adalah sah dengan syarat; jaminan keamanan mereka dan perjanjian mereka tidak menghentikan jihad fi sabilillah di satu sisi, dan supaya orang kafir (yang diberi jaminan keamanan) tidak memerangi dan berkomplot terhadap Islam dan kaum Muslimin di sisi lain.

Rasulullah saw bersabda:

“Perlindnngan orang yang paling rendah (status sosial)nya di antara mereka berlaku atas semua kaum Muslimin.” (HR. Ahmad dan Hakim)

Rasulullah saw bersabda:

“Kaum Muslimin itu setara/sama nilai darah mereka. Orang yang paling rendah (status sosialnya) di antara mereka dapat memberikan jaminan perlindungan mereka.” (HR. Abu Daud: 2371)

Orang kafir dzimmi tidak dapat memberikan jaminan perlindungan kepada orang kafir kecuali dengan izin Imam. Sebab pada dasarnya, orang-orang kafir itu akan menyayangi orang-orang yang seagama dengannya.

Dan jika Imam atau wakilnya khawatir mereka melanggar perjanjian dengan ditemukannya indikasi-indikasi serta tanda-tanda yang menunjukkan pelanggaran tersebut, maka dia boleh membatalkan perjanjian itu kepada mereka secara adil -yakin kedua belah pihak sama-sama mengetahui terhadap pembatalan perjanjian itu- dalam rangka menjauhi perbuatan khianat dan ingkar janji.

Syarat Keempat:

Adanya harapan dan dugaan kuat bahwa kekuatan dan kemenangan ada di tangan kaum Muslimin, yang demikian itu adalah ijtihad amir, atau ijtihad seseorang yang telah diyakini kapasitas ijtihad dan pemikirannya dari orang-orang yang memiliki pengalaman dan pengetahuan di bidang tersebut. Adapun jika amir tidak mempunyai harapan atau tidak memiliki dugaan kuat akan hal tersebut, maka tidak halal baginya melakukan peperangan, mengingat hal itu bisa mengantarkan dirinya pada kaum Muslimin ke jurang kebinasaan.

Dalam perang Mu’tah. pasukan muslimin yang berjumlah 3.000 orang dibawah pimpinan Zaid bin Haritsah ra bertemu dengan musuh mereka orang-orang Romawi dan Arab yang berjumlah 200.000 orang dibawah pimpinan Heraklius. Kedua pasukan saling bertempur. Zaid bin Haritsah ra berperang membawa bendera Rasulullah saw sarnpai akhirnya terbunuh sebagai syahid. Kemudian menyusul Ja’far bin Abi Thalib ra. Kemudian Abdullah bin Rawahah ra. Tatkala bendera berpindah ke tangan Khalid bin Walid ra -semoga Allah swt meridhai mereka semua- setelah kaum Muslimin berunding dan mengangkatnya sebagai pimpinan pasukan, maka ia menjauhkan pasukan dari musuh, dan dengan kecerdikan siasatnya dan pengalamannya ia berhasil mengakhiri peperangan dan menarik mundur pasukannya dengan selamat.

Oleh karena ia mengkhawatirkan pasukan muslimin menemui kehancuran dikarenakan sedikitnya jumlah dan perlengkapan mereka. Kemudian mereka kembali pulang ke Madinah. Ketika mereka telah dekat dengan kota Madinah, Rasulullah saw dan kaum Muslimin menyambut kedatangan mereka. Orang-orang pun melempari mereka dengan debu seraya berkata,

“Hai orang-orang yang lari, kalian telah lari dari perang dijalan Allah!”

Tetapi Rasulullah e mengatakan,

“Mereka bukan orang-orang yang melarikan diri, akan tetapi mereka mundur untuk menyerang insya Allah.”

Dalam riwayat lain dikatakan :

“Akan tetapi kalian adalah orang-orang yang mundur untuk menyerang, dan saya adalah kelompok kalian untuk (bergabung). [Ringkasan dari Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, juz : IV]

Diriwayatkan, ketika Umar bin Khatthab ra mendengar berita terbunuhnya Abu ‘Ubaid bin Mas’ud ra dan kawan-kawannya pada perang Qadisiyah, dia berkata : “Mengapa mereka tidak bergabung kepada kami, karena aku adalah kelompok (untuk bergabung) bagi setiap orang muslim.”

Demikian pula Umar bin Khatthab ra berkata ketika Abu ‘Ubaid bin Mas’ud ra terbunuh di atas jembatan di bumi Persia karena banyaknya pasukan dari pihak orang-orang Majusi : “Seandainya ia bergabung kepadaku, niscaya aku adalah kelompok (untuk bergabung) baginya.” [Tafsir Ibnu Katsir dalam surat Al-Anfal]

Pada awalnya, Allah swt memerintahkan pada orang mukmin memerangi orang kafir, jika jumlah musuh tidak lebih dari sepuluh kali lipatnya, dan agar mereka tetap maju menghadapi musuh mereka. Kemudian Allah swt meringankan beban orang-orang mukmin, mereka hanya diperintahkan memerangi musuh dan tetap maju menghadapi mereka apabila jumlah musuh tidak lebih dari dua kali lipatnya. Wallhu a’lam.

Musykilah.

1. ” Dan jika musuh menjadikan orang muslim sebagai tameng (pelindung), maka mereka harus tetap diperangi namun sasarannya bukan dia, yakni orang muslim yang dijadikan tameng—yaitu dengan lemparan, dan tidak boleh melempar tameng (muslim) kendatipun kita mengkhawatirkan keselamatan sebagian pasukan, kecuali kekhawatiran terhadap keselamatan dari sebagian besar umat Islam, maka dalam kondisi tersebut gugurlah keharaman tameng (muslim) itu sehingga semuanya boleh dilempar… ” [Kitab Balaghatus Salik li Aqrabi Al-Maslik fie Fiqhl Al-Iinam Malik, bab : Jihad, juz : 1]

2. Dalam Kitab Al-Mughni, XIII 449-450 tulisan Ibnu Qudamah rahimahullah kemukakan : “Jika dalam peperangan, musuh menjadikan istri dan anak-anak mereka sebagai tameng pelindung, boleh melempar mereka sedangkan yang dituju adalah mereka yang ikut berperang. Sebab Nabi sendiri pernah melempari musuh dengan manjanik padahal bersama mereka ada kaum wanita dan anak-anak, dan oleh karena jika mereka dibiarkan akan mengakibatkan kepada terhentinya jihad.

3. “Jika mereka menjadikan orang muslim sebagai tameng pelindung, sementara sikon belum menuntut pada pelemparan mereka, lantaran pertempuran tidak berjalan, atau adanya kemungkinan untuk menguasai mereka dengan cara lain, atau agar selamat dari kejahatan mereka, maka tidak boleh melempar mereka…. Dan jika sikon menuntut pelemparan mereka, karena mengkhawatirkan terhadap keselamatan kaum Muslimin, maka boleh melempar mereka dalam keadaan dharurat tapi yang dituju tetap orang-orang kafir.)

Syarat Kelima :

Jika mungkin, jihad tersebut lebih dahulu melalui izin Imam atau khalifah, oleh karena Imam-lah yang paling memahami terhadap kondisi, kekuatan, strategi, tempat-tempat perlindungan, rute-rute jalan yang dipakai oleh musuh, sebagai-mana dia pula yang paling tahu keadaan kaum Muslimin, kekuatan mereka, kemampuan mereka, kondisi objektif dan moral mereka. Ijtihad dan feeling dia akan menang atau tidaknya paling mendekati kebenaran karena luasnya wawasan dan serta pengalamannya.

Maka sudah seharusnyalah mengembalikan persoalan jihad itu kepada pendapatnya dan izinnya, kecuali dalam keadaan darurat, seperti serbuan mendadak dari pihak musuh, atau mempergunakan kesempatan (peluang) yang dikhawatirkan terlewat, sulitnya minta izin karena jauhnya jarak atau terpisah wilayah, atau karena yang lain,  akan tetapi walau bagaimana pun jika mungkin mereka harus meminta izin dahulu kepada Imam atau amirul jihad.

Tatkala orang-orang kafir menyerang pinggiran kota Madinah dan menjarah onta-onta perahan (milik kaum Muslimin), maka Salamah bin Al-Akwa’ dan Abu Qatadah t mengejar mereka dan memerangi mereka tanpa seizin Nabi saw, namun Nabi saw memuji kedua orang tersebut dan beliau berkata : “Sebaik-baik prajurit penunggang kuda hari ini adalah Abu Qatadah, dan sebaik-baik prajurit pejalan kakinya adalah Salamah.

Demikian juga jihad tidak boleh ditinggalkan atau diberhentikan, atau ditangguhkan lantaran tiadanya khalifah, atau kelengahannya terhadap urusan-urusan jihad. Sebab ditinggalkannya atau diberhentikannya atau ditangguhkannya jihad akan membuat hilang kemaslahatannya. Lebih-lebih jika hal tersebut jelas-jelas mengakibatkan kerusakan dan bahaya. Dalam kitab Al-Mughni, tulisaan Ibnu Qudamah rahimahullah dikatakan :

” Urusan jihad diserahkan Imam/Amir jihad dan ijtihadnya, dan rakyat wajib mentaati Imam atas apa yang menjadi pendapatnya dalam urusan tersebut… Jika Imam tidak ada, jihad tidak boleh ditangguhkan oleh karena maslahatnya akan hilang dengan penangguhannya, dan jika berhasil mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang), maka mereka yang berjihad harus membagi-bagikannya sesuai dengan tuntutan syari’at. Dan jika Imam mengirim pasukan dan menyerahkan komando kepada seorang amir (komandan perang), lalu dia terbunuh atau mati, maka anggota pasukan tersebut berhak mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai amir, sebagaimana yang pernah di lakukan dahulu oleh para sahabat Nabi dalam perang Mu ‘tah. Ketika amir-amir mereka yang ditunjuk oleh Nabi terbunuh dalam peperangan, maka kemudian mereka menunjuk Khalid bin Al-Walid sebagai penggantinya. Lalu khabar tersebut sampai kepada Nabi, dan Nabi sendiri ridha terhadap apa yang telah mereka lakukan dan membenarkan pendapat mereka. Bahkan beliau menjuluki Khalid pada waktu itu dengan sebutan “Pedang Allah”.

Dalam kitab tersebut dikemukakan : “….Apabila musuh datang, maka wajib bagi kaum Muslimin untnk berangkat perang, sedikit atau banyak, dan mereka tidak boleh keluar (menyongsong musuh) kecuali dengan izin amir. Kecuali jika musuh menyerang mereka secara mendadak, dan mereka mengkhawatirkan keganasannya, kemudian sikon tidak memungkinkan mereka untuk meminta izinnya terlebih dahulu…

Mengacu kepada keterangan di atas. maka jika kaum Muslimin hendak berjihad, sementara mereka belum mempunyai Imam yang mempersatukan kalimat mereka, mengarahkan dan memimpinnya, yang harus mereka lakukan terlebih dahulu adalah memilih orang yang paling cakap dan layak di kalangan mereka, kemudian barulah mereka berjihad.Jadi tidak perlu menunggu ada khalifah atau terangkatnya seorang imam.

Syarat Keenam :

Anak harus keluar (berperang) seizin kedua orang tuanya, dan budak atas seizin tuannya. dan orang yang berhutang atas izin orang yang menghutanginya, ini dalam keadaan jihad fardhu kifayah hukumnya, tapi dalam fardhu ‘ain, izin tersebut tidak disyaratkan, bahkan tidak ada kewajiban untuk minta izin kepada seorang pun, oleh karena ia telah menjadi fardhu ‘ain, dan tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perkara yang mendurhakai Khalik (Allah).

Abdullah bin Amru bin AJ-Ash meriwayatkan : “Seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata : Wahai Rasulullah, bolehkah aku berjihad?’, ‘Apakah engkau masih mempunyai kedua orang tua?’ Rasulullah e balik menanya kepadanya. Ya’. jawabnya. Selanjutnya beliau e berkata : ‘Pada kedua orang tuamu itu berjihadlah engkau ‘. ‘

At-Tumidzi meriwayatkan hadits yang serupa dari Ibnu Abbas ra, dan ia mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shahih. Dalam satu riwayat dikatakan: “Aku datang untuk berbai’at kepadamu atas hijrah, aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis. ” Lantas beliau berkata : “Kembalilah (pulang) dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuatnya menangis.”

Dari Abu Sa’id, dia berkata : “Ada seseorang berhijrah kepada Rasulullah, lalu ia ditanya oleh beliau : “Apakah engkau mempunyai kerabat di Yaman? ” “Ya, dua orang tua saya” jawabnya. ‘Apakah keduanya telah memberikan izin kepadamu? ” tanyanya kembali. Tidak” jawabnya. Lalu beliau pun berkata: “Kembalilah, dan mintalah izin kepada mereka berdua, jika keduanya mengijin kanmu, berjihadlah, dan sebaliknya jika tidak. berbuat baiklah engkau kepada mereka berdua.” (HR. Abu Daud)

Oleh karena birrul walidain itu fardhu ‘ain hukumnya, sementara jihad waktu itu fardhu kifayah, jadi fardhu ‘harus didahulukan atas fardhu kifayah.

Jika kedua orang tuanya bukan orang muslim, maka tidak ada kewajiban minta izin kepada mereka berdua menurut pendapat yang paling kuat, oleh karena kebanyakan dari para sahabat Nabi saw dahulu berjihad sementara bapak-bapak mereka adalah orang-orang musyrik, dan mereka tidak minta izin kepada orang-orang tua mereka. Mereka-mereka itu antara lain : Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, Abu Khudza’ifah ra bin Utbah bin Rabi’ah (pada perang Badar ia dipihak Nabi saw, sementara bapaknya adalah salah seorang pentolan kaum musyrikin). dan Abu Ubaidah t yang membunuh sendiri bapaknya dalam jihad sehingga Allah $g% menurunkan ayat perihal dirinya dan orang-orang yang semisalnya -semoga Allah swt meridhai mereka semua-.

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan ruh yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah : 22.)

Syarat Ketujuh :

Adapun syarat-syarat wajibnya jihad atas manusia itu -yakni syarat-syarat taklif, ringkasnya adalah sebagai berikut:

  1. Islam, yang menjadi sasaran khitab Allah I-orang kafir tidak termasuk-
  2. Baligh, adalah seorang mukalaf yang mampu secara fisik [bukan anak-anak kecil].
  3. Berakal, adalah seorang mukalaf yang memiliki pemahaman dan bisa berpikir [bukan orang gila].
  4. Merdeka, adalah orang yang memiliki dirinya sendiri [bukan budak].
  5. Sehat fisiknya dan selamat dari gangguan seperti sakit, buta dan pincang, agar tidak menyulitkan, mengganggu, mengacaukan dan menyibukkan mujahidin yang lain terhadapnya.
  6. Laki-laki, sebab ia lebih sabar, lebih kuat, dan lebih tabah daripada seorang wanita.
  7. Adanya bekal, sehingga tidak menjadi beban terhadap yang lain.
  8. Mampu menggunakan senjata, baik membawa dan mengoperasikannya, jika tidak demikian sama saja dengan orang yang tidak bersenjata.
  9. Izin dari kedua orang tua bagi seorang anak, izin bagi orang yang memberikan pinjaman (bagi orang yang berhutang), izin dari sang tuan bagi seorang budak ,jika jihad  berada dalam posisi fardh kifayah,dan  izin menjadi tidak dioerlukan jika jihad dalam posisi fardhu ‘ain.

Wallahu a’lam bis shawab.

Jakarta,13 syawal 1429 /13 oktober 2008

Abu Muhammad jibriel A.R

One response to “Jihad Di Jalan Allah Puncak Ketinggian Islam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Terkait

Tulisan Rekomendasi

Tulisan Terbaru

Tulisan Terpopuler

No Content Available