Karakteristik Majelis Mujahidin

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram

Muqaddimah

Generasi Mujahid, adalah generasi Muslim penerus perjuangan Islam; yang mengamalkan, mendakwahkan, dan memperjuangkan tegaknya Syari’ah Islam, baik secara individual (sendiri) maupun institusional (bersama-sama). Sebagai pelanjut perjuangan penegak Syari’ah Islam, maka setiap mujahid bertanggung jawab atas pasang surutnya dakwah kebenaran, tegak atau runtuhnya bangunan Islam. Siapapun orangnya yang masih menghembuskan nafas syahadatain, dimanapun ia berada dan pada posisi apapun ia berperanserta, memiliki kewajiban dan kepentingan yang sama untuk menegakkan kebenaran dan meninggikan kalimat Allah swt di atas kalimat manusia.

Kesadaran Islami, yang didukung dengan hujjah aqliyah maupun naqliyah ini, akan dapat memacu generasi mujahid untuk senantiasa tampil total (kaffah). Yaitu, totalitas dalam kepribadian, totalitas dalam beramal, totalitas dalam berjihad, dan dalam segala dimensi kehidupan sebagai aplikasi keimanannya. Dan untuk tampil total (kaffah) para mujahid hendaknya berpegang pada asas keutuhan dan persatuan (wihdah), persaudaraan (ukhuwah) serta solidaritas (ta’awun). Segala ini amat sangat perlu dalam mewujudkan keserasian dan ketegaran langkah serta mengantisipasi ketimpangan gerak perjuangan fi sabilillah.

Pentingnya kebersamaan (institusional) dan persaudaran, niscaya akan dapat meretas kaveling-kaveling kelompok, berupa kebanggaan pada kelompok sendiri dan menyalahkan kelompok Islam lainnya. Dalam hal ini, diperlukan upaya sungguh-sungguh untuk menjauhkan gerak mujahidin dari iklim titik beku perjuangan, akibat problem internal maupun eksternal yang dapat melumpuhkan potensi mujahid dalam segala bidang. Karena itu, dirasakan pentingnya manhaj perjuangan yang disepakati dan tidak menyimpang dari Syari’ah Islam, sebagai landasan melanjutkan perjuangan Islam, demi menghindari perpecahan dan permusuhan di kalangan generasi mujahidin, yang terbukti telah membenturkan perjalanan dakwah dan jihad selama berabad-abad pada titik jalan buntu.

Inilah 5 (lima) Karakteristik Majelis Mujahidin yang menjadi landasan para mujahid penegak Syari’at Islam, dalam mengayunkan langkah perjuangan menegakkan Syari’ah Islam.

  1. Persaudaraan Berasas Aqidah Tauhid
  2. Firman Allah swt:

    “Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara. Karena itu, damaikanlah diantara saudaramu, dan bertaqwalah kamu kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Qs. al-Hujuraat, 49: 10)

    Persaudaraan berarti menganggap orang lain seperti dirinya sendiri karena adanya kesamaan tertentu. Orang-orang yang merasa dirinya terikat oleh kesamaan tertentu, merasa menjadi satu diri dengan orang lain. Seperti persaudaraan nasional (ukhuwah wathaniyah) merasa bersaudara karena kesamaan ras, etnis, tanah air dan lain-lainnya. Demikian pula, persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah basyariyah) mengikat kebersamaannya berdasarkan HAM (Hak Asasi Manusia). Namun, persaudaraan Islam berbeda dengan segala bentuk persaudaraan yang dibangun di atas fondasi jahiliyahisme itu.

    Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim) adalah persaudaraan yang tegak dan kokoh pada adanya kesamaan aqidah dan manhaj (metode) perjuangan, sehingga menyatukan dirinya dengan orang lain dalam dasar pandangan hidup dan tujuan hidupnya.
    Asas persaudaraan yang bertumpu pada keimanan dan taqwa kepada Allah swt, hendaknya menjadi landasan utama masyarakat Muslim dalam menata kehidupan diri dan masyarakatnya menghadapi segala permasalahan hidup. Maka, bila timbul perselisihan di antara sesama mukmin, landasan penyelesaiannya adalah aqidah Islam, kepentingan dan tujuan Islam, cara dan jalan penyelesaian secara Islam.

    Bilamana ada orang Islam atau golongan Islam, dalam menata kehidupannya melepaskan diri dari prinsip aqidah tauhid dan menolak menyelesaikan problematika kehidupan berdasarkan Syari’ah Islam, maka orang atau golongan tersebut bukanlah saudara Muslim yang sebenarnya.

    Persatuan dan persaudaraan sesama Muslim, akan bisa dibangun selama berdiri tegak di atas landasan tauhidullah, dan bertumpu pada tatanan Syari’at Islam. Karenaya, dalam menyelesaikan segala perbedaan dan perselisihan, satu satunya rujukan adalah Syari’at Islam sebagai wujud konkrit keimanan kepada Allah swt serta Rasul-Nya.

    Bilamana ternyata orang atau sekelompok orang yang mengaku dirinya Muslim menolak tunduk dan patuh kepada Syari’at Islam di dalam menyelesaikan segala urusan hidupnya. Sebaliknya, malah mengikuti jalan lain yang bertentangan dengan Syari’at Islam, maka golongan semacam ini dinyatakan oleh Allah swt sebagai perusak langit dan bumi. Allah swt berfirman:

    “Dan sekiranya kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka (orang-orang kafir) niscaya seluruh langit, bumi dan segenap makhluk yang ada di dalamnya akan rusak.” (Qs. al Mukminun, 23: 71)

    Penegasan ayat di atas menjadi dasar bertindak bagi para mujahid. Sesungguhnya, golongan yang dikategorikan sebagai saudara sesama Muslim hanyalah mereka yang berpegang kepada Syari’at Islam, dan menentang segala bentuk jalan hidup yang selainnya. Untuk mengetahui apakah kita berpegang kepada Syari’at Islam atau mengikuti hawa nafsu, pendapat dan pernyataan para imam di bawah ini dapat menjadi rujukan bagi para mujahid, yaitu:

    1. Berkata Imam Ahmad: “Janganlah engkau mengikuti pendapat tokoh-tokoh kamu dalam urusan agamamu, karena mereka tidak akan pernah selamat dari kesalahan.”
    2. Maksudnya, seseorang tidak boleh mendasarkan tolak ukur benar dan salah kepada pendapat manusia, melainkan harus tetap berprinsip kepada ketetapan Allah swt dan rasul-NYA. Hanya dengan mengikuti ketetapan inilah yang dapat menjamin kaum Muslim bersatu dalam barisan kebenaran.

    3. Berkata Imam Ibnu Qayim: “Kita tidak boleh fanatik kepada kelompok tertentu untuk melawan kelompok yang lain. Akan tetapi kita sejalan dengan setiap kelompok yang mengikuti kebenaran dan menolak kelompok yang menyalahi kebenaran, tanpa mengagungkan kelompok tertentu dan pendapat tertentu.”
    4. Maksudnya, kita hanya akan berpegang kepada kebenaran, Syari’at dan ketetapan Allah swt di dalam mengikat diri kita dengan orang lain, sehingga kita dapat menjadi bersaudara dan bersatu.

    Maka ukuran yang harus menjadi pegangan kita di dalam membangun persaudaraan adalah kitabullah dan sunnah Rasulullah tanpa terpengaruh oleh sikap senang atau tidak senang, pendapat yang sama atau tidak sama, organisasinya sama atau berbeda, kitab rujukannya sama atau lain, tokoh-tokohnya sama atau tidak, aktifitas dan harakahnya sama atau tidak. Selama yang dijadikan dasar harakahnya adalah Islam dan tujuannya adalah menegakkan kalimat tauhid, dan syari’at Islam menjadi satu-satunya dasar menata kehidupan di dunia ini, maka orang-orang atau golongan semacam itu adalah saudara sesama Muslim.

    Majelis Mujahidin bertekad untuk membangun jaringan persaudaraan dengan segenap golongan kaum Muslim yang memperjuangkan Syari’at Islam sebagai satu satunya dasar menata kehidupan di muka bumi Allah swt ini. Karena yang disebut sebagai Khalifah Allah swt di muka bumi adalah orang-orang yang menegakkan Syari’at-Nya di muka bumi.

    Mereka yang menjadikan tauhid sebagai landasan hidup dan Syari’at Islam sebagai tatanan dalam semua aspek kehidupan di dunia ini. Mereka itulah golongan mukmin yang berhak untuk diperlakukan sebagai Saudara segama, yang senantiasa tolong-menolong dalam kebaikan, saling menguatkan dalam membela kebenaran.

  3. Berterus Terang dengan Kebenaran
  4. Firman Allah swt:

    “Maka sampaikanlah olehmu (Muhammad) secara terang-terangan apa saja yang diperintahkan kepadamu, dan jauhkanlah dirimu dari golongan musyrik.Sesungguhnya Kami memeliharamu dari kejahatan orang-orang yang memperolok-olokkan, yaitu golongan yang beranggapan adanya tuhan selain Allah. Mereka kelak akan menyadari (akibat buruknya).” (Qs. al Hijr, 15: 94-96)

    Al-Qur’an datang dengan lantang memproklamirkan aqidah tauhid dan secara terang-terangan menuntut ummat manusia untuk hanya bertuhan kepada Allah swt, tunduk dengan sukarela kepada-Nya dan membersihkan kehidupan manusia dari segala bentuk keyakinan dan perbuatan syirik. Dengan terang-terangan dan gaya yang berpengaruh ke dalam jiwa ummat manusia, Al-Qur’an dengan suara lantang menggedor kelalaian hati manusia terhadap ajaran tauhid dan mengingatkan fikiran sesat yang bersemayam di dalam hati kaum jahiliyah serta menghujat fikiran-fikiran dan argumentasi dusta yang dibawa oleh ummat manusia.

    Sikap terus terang dan ajakan yang lantang dari Al-Qur’an dimaksudkan untuk menghidupkan hati manusia dan meluruskan perilakunya agar fidak terjerumus ke dalam kebinasaan. Allah swt berfirman:

    “Agar orang-orang yang binasa itu binasa karena melawan keterangan yang nyata, dan orang-orang yang hidup, terus hidup karena mengikuti keterangan yang nyata.” (Qs. al Anfaal, 8: 42)

    Sikap dan metode yang dibalut dengan tipu muslihat di dalam mengibarkan bendera dakwah, akan merusak aqidah dan menjadikan Islam ini terbelah berpuing-puing. Antara lain akan menimbulkan sikap menyembunyikan sebagian dari kebenaran Islam karena takut kemurkaan masyarakat atau penguasa sehingga menjauhkan kebenaran Islam dari publik. Perilaku semacam ini bukanlah tabi’at harakah yang benar yang dilandasi oleh aqidah tauhid.

    Berbicara terus terang tentang kebenaran tidak sama artinya dengan bertindak keras, kasar, tanpa perasaan, zalim dan anarkhis sehingga menjauhkan manusia dari kebenaran. Juga tidak bermakna menggunakan tipu muslihat halus, menyembunyikan sebagian kebenaran, menyampaikan hanya hal-hal yang menyenangkan penguasa, atau masyarakat sehingga membuat Islam ini terkotak-kotak antara yang radikal dan yang moderat, yang militan dan yang pengecut, yang tegas dan yang takut-takut. Akibat dari sikap tidak mau menanggung resiko dalam memikul dakwah Islam yang hakiki akan membuat ummat bingung, terpecah belah ke dalam sikap yang saling berlawanan.

    Hakekat dari menyampaikan Islam secara terus terang adalah tidak menyembunyikan kebenaran Islam yang memang memiliki watak kontra terhadap sistem jahiliyah, berdiri kukuh pada prinsip tauhid Uluhiyah dan Rububiyah, menentang segala bentuk thaghut dan kehendak masyarakat yang mengikuti hawa nafsu. Allah swt berfirman dalam Qur’an surat Saba’ ayat 28:

    “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan,tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. Saba, 34: 28)

    Allah swt sendiri menyatakan bahwa Dialah yang melontarkan roket kebenaran ke tengah-tengah ummat manusia, karena itu tidak ada alasan bagi setiap Muslim untuk menutupi bebenaran yang diturunkan oleh Allah swt kepada ummat manusia. Allah swt telah menegaskan bahwa kebenaran harus menang di atas kebathilan, sebagaimana firman-Nya pada surat Saba’ ayat 49:

    “Katakanlah (Wahai Muhammad): “Kebenaran telah datang dan kebathilan tidak akan memulai dan tidak pula akan berulang kembali.”

    Ayat-ayat di atas sudah cukup jelas bahwa karakter berterus terang menyampaikan kebenaran menjadi tabi’at para nabi dan rasul Allah swt dan menjadi manhaj Ilahi sepanjang perjalanan dakwah para nabi dan rasul-Nya. Oleh karena itu setiap Muslim berkewajiban untuk memerangi kebathilan dengan terus terang dan memproklamasikan kebenaran dengan terus terang pula, sehingga kebathilan yang menguasai manusia dapat dikalahkan oleh kebenaran yang dikumandangkan secara terus terang kepada ummat manusia juga.

  5. Kesediaan Berkorban Jiwa dan Harta di Jalan Allah
  6. Firman Allah swt:

    “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan imbalan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Begitulah janji yang benar dari Allah yang telah termaktub di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an.” (Qs. at-Taubah, 9: 111)

    Allah swt telah menawarkan transaksi kepada setiap orang yang beriman untuk memenuhi tawaran-Nya ini. Artinya, setiap orang mukmin diperintahkan untuk mengorbankan jiwa dan hartanya di jalan Allah swt. Barangsiapa yang memenuhi tawaran-Nya ini imbalannya adalah surga.

    Tawaran ini mengikat semua leher orang Islam. Karena siapapun yang mengaku beriman tetapi menolak transaksi yang ditawarkan oleh Allah swt ini berarti dia menolak menjadi golongan ahli surga.

    Para sahabat pada masa awal dakwah Rasulullah n di Makkah telah membuktikan diri memenuhi tawaran Allah swt ini. Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bermakna Abdullah bin Rawahah, seorang Muslim yang datang dari kota Yatsrib, melakukan bai’at aqabah kedua dengan Rasulullah. Dalam bai’at ini Abdullah bin Rawahah berkata, kepada Rasulullah: “Berikanlah syarat untuk tuhanmu dan dirimu sesuai dengan kehendak-Mu.” Rasulullah menjawab: “Saya mensyaratkan untuk Tuhanku kepada kalian, yaitu kalian hanya menyembah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Sedangkan untuk diri saya, saya syaratkan kepada kalian supaya kalian membelaku dengan jiwa dan harta kalian.” Lalu Abdullah bin Rawahah berkata: “Apa imbalan yang kami peroleh, kalau kami memenuhi syarat-syarat itu?” Rasulullah n menjawab: “Surga.” Lalu Abdullah berkata: “Ini adalah jual beli yang menguntungkan, kami tidak akan mundur, dan kami tidak mau menerima pembatalan atas janji ini.”

    Begitulah sikap sejumlah sahabat sekalipun masih sedikit jumlahnya di dalam menunjukkan kesediaan untuk mengorban kan jiwa dan hartanya, dalam menegakkan panji-panji Syari’at Allah swt dan mengikuti dakwah Rasul.

    Oleh karena itu, maka bergembiralah orang-orang mukmin yang menunaikan tanggung jawabnya kepada Allah swt dengan mengorbankan jiwa dan hartanya; karena mereka akan memperoleh imbalan surga yang merupakan janji dari Allah swt. Bagi seorang mukmin sama sekali tidak akan mengalami kerugian karena menjual jiwa dan hartanya kepada Allah swt. Sebab jiwa dan hartanya bukanlah miliknya sendiri, tetapi milik Allah swt. Justeru seorang mukmin akan sangat rugi dan binasa kalau ia tidak menjual jiwa dan hartanya kepada Allah swt. Bentuk konkret dari menjual jiwa dan harta kepada Allah swt adalah berdakwah dan berjihad di jalan Allah swt tanpa menghitung kerugian materi, mengenyampingkan kepentingan duniawi dan hanya menjunjung tinggi kalimat dan Syari’at Allah swt. Dengan pengorbanan semacam inilah orang orang mukmin dapat melepaskan dunia. ini dari cengkeraman thaghut dan masyarakat jahiliyah.

  7. Disiplin Menjalankan Dakwah dan Jihad
  8. Firman Allah swt:

    “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dengan barisan yang teratur seakan-akan mereka laksana sebuah bangunan yang tersusun kokoh.” (Qs. ash Shaff, 61: 4)

    Dakwah, adalah mengajak manusia untuk mengesakan Allah swt, dan menerapkan syari’ah-Nya, sebagai satu-satunya way of life (manhajul hayah), ketetapan dan ketentuan serta aturan hidup manusia. Manusia dilarang menyandingkan tatanan lain di samping Syari’at Allah swt sebagai tatanan kehidupan di dalam uusan apa saja. Sedangkan jihad yang dimaksudkan disini adalah, usaha sungguh-sungguh untuk memperjuangkan dan menerapkan Syari’ah Islam dalam semua segi kehidupan, baik secara pribadi, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara; termasuk perlawanan (usaha pembelaan diri) ketika mendapat serangan dari musuh Islam.

    Sesungguhnya Al-Qur’an datang untuk membangun suatu ummat. Yaitu ummat yang mengemban amanat menegakkan Syari’at Allah di muka bumi. Oleh karena itu dituntut adanya mental yang penuh disiplin supaya dapat membangun barisan seperti yang digambarkan oleh Allah swt pada ayat di atas.

    Dengan ayat di atas jelaslah apa yang menjadi konsep Majelis Mujahidin, yaitu membangun jiwa individu ummat untuk bergerak melakukan amaliyah nyata dengan langkah yang teratur rapi menuju kehidupan masyarakat yang tertata dalam bangunan yang kokoh.
    Maka seorang Muslim tidak akan bisa menjadi sempurna ke-Islamannya jika ia terpencil dari kehidupan jama’ah Muslim. Artinya, Syari’at Islam yang menjadi tanggung jawabnya mustahil akan dapat terealisasikan tanpa hidup di tengah masyarakat dan dalam kehidupan bernegara. Untuk itu setiap Muslim dituntut untuk disiplin mengikuti manhaj Ilahi, memperjuangkan Syari’at-Nya dan menegakkan agama-Nya.

    Islam menuntut setiap kaum Muslimin hidup di tengah masyarakat yang menjalani kehidupan real, menghasilkan amal shalih dan memerangi segala bentuk sistem jahiliyah. Islam bukanlah agama individualis, agama yang puas dengan terlaksana nya ibadah orang perorang di Masjid atau tempat-tempat ibadah lainnya, terpisah dari kancah kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Islam tidaklah datang untuk menyuruh manusia menjadi pertapa, menyingkirkan dari pergaulan dengan orang lain dan membiarkan kehidupan masyarakat bernegara diatur oleh paham dan sistem kafir. Tapi Islam datang untuk menguasai dan mengarahkan kehidupan individu masyarakat dan negara dengan landasan Syari’at Allah dan menuju kepada penyembahan kepada Allah swt semata-mata.

    Untuk itulah setiap Muslim harus memiliki disiplin yang tinggi agar dapat membangun masyarakat Islam dan kehidupan bernegara yang didasarkan pada manhaj Ilahi.

    Tugas yang diemban oleh setiap muslim untuk membangun masyarakat dan dunia dengan tatanan Islam tidak akan dapat dilaksanakan bila tidak memiliki barisan yang teratur dan kokoh bagaikan sebuah bangunan seperti yang dikehendaki oleh Allah swt. Untuk meraih barisan yang teratur semacam ini mutlak diperlukan kedisiplinan yang tinggi.

    Di dalam institusi Majelis Mujahidin, para mujahid dituntut menjalani kedisiplinan yang terprogram, teratur dan berdedikasi yang disebut dengan disiplin STAP, yaitu:

    • Disiplin Shaf (institusi)
    • Disiplin dalam Tugas
    • Disiplin menjalankan Aturan
    • Disiplin melaksanakan Program.
  9. Komitmen dan lstiqamah Menegakkan Syari’ah Islam
  10. Firman Allah swt:

    “Katakanlah sesungguhnya Aku memberikan nasihat kepada kalian dengan satu hal saja, yaitu supaya kamu sekalian menegakkan agama Allah dengan ikhlas, berdua-dua atau sendiri-sendiri. Kemudian hendaklah kamu sekalian berfikir (tentang kebenaran Muhammad). Tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan bagi kamu sekalian sebelum datangnya azab yang berat.” (Qs. Saba’, 34: 46)

    Rasulullah saw diperintahkan untuk mengajak manusia menegakkan agama Allah swt dan segenap manusiapun diperintah kan untuk melaksanakan tugas ini secara bersama-sama atau seorang diri sekalipun, jika tidak ada lagi orang yang mau diajak.

    Diperintahkan kepada kaum Muslimin berdua-dua untuk menegakkan dakwah Islam dengan maksud agar satu dengan lainnya saling mengoreksi, saling memberikan input, tukar menukar pengalaman dan mengadu hujjah sehingga Islam terus tegak di muka bumi. Sekiranya di suatu tempat seorang Muslim tidak mendapatkan kawan untuk memperjuangkan agama Allah swt maka ia tidak boleh bertopang dagu melainkan ia terus tampil walaupun seorang diri.

    Seruan ayat tersebut di atas memberikan motivasi kepada kita bahwa Allah swt tidak membenarkan adanya orang Islam yang apriori terhadap dakwah Islam, merasa bebas dari tanggung jawab dan merasa tidak berdosa, karena sudah ada orang lain yang mengibarkan dakwah dan jihad.

    Orang-orang yang tidak mau menerjunkan dirinya dalam aktifitas dakwah dan jihad, diperingatkan oleh Allah swt agar mereka mau memikirkan tentang agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad n. Jika mereka mengakui bahwa Nabi Muhammad n membawa kebenaran dan rahmat kepada seluruh alam, maka apakah patut bagi orang yang beriman kepadanya untuk berdiam diri membiarkan agama Allah swt yang dibawa oleh beliau ini lemah dan dikalahkan oleh golongan thaghut dan kaum jahiliyah.

    Maka setiap orang yang berakal, bilamana meyakini bahwa suatu obat berguna bagi penyakit yang dideritanya, tapi ternyata dia lebih memilih menderita sakit daripada minum obat, sudah pasti orang semacam ini dikatakan manusia tidak berakal. Begitu pula, setiap orang yang mengakui bahwa apa yang diajarkan oleh Rasulullah dari Allah swt adalah kebenaran yang menjadi tumpuan kebahagiaan bagi manusia, namun dia tidak mau menyebarkan kebahagiaan ini kepada ummat manusia, karena takut permusuhan orang-orang kafir dan jahiliyah, maka sesungguhnya orang semacam ini adalah manusia yang sangat celaka.

    Bukankah Islam mengajarkan keadilan, perdamaian, tolong-menolong, pembelaan terhadap golongan lemah, mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan individu, mengutamakan akhlak yang mulia daripada keuntungan materi; sehingga sifat-sifat baik semacam ini menjadi dasar kebahagiaan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat. Memang, kebenaran yang dibawa Islam ini mendapatkan permusuhan dan perlawanan dari golongan jahil dan penyembah hawa nafsu. Namun, apakah dengan alasan demikian seorang Muslim boleh berpangku tangan dan bermalas-malasan dalam memperjuangkan agama Allah swt? Oleh karena itu, Allah swt memerintahkan kepada kita agar tetap istiqamah mengibarkan kalimat Allah swt walaupun tinggal seorang diri.

Sumber: Buku Panduan Daurah Syar’iyah Untuk Penegakan Syari’ah Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Terkait

Tulisan Rekomendasi

Tulisan Terbaru

Tulisan Terpopuler

No Content Available