Ketentuan Syari’ah Dalam Pergaulan Lelaki dan Wanita

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram

Ketentuan Syari’ah Dalam Pergaulan Lelaki dan Wanita

Oleh : Ust. Abu Muhammad Jibriel Abdul Rahman

Mukaddimah

Bismillahirahmanirrohim………….

Kesucian adalah sebuah hijab/tabir yang telah dikoyak-koyakkan oleh pergaulan bebas antara laki-laki dan wanita (ikhtilat). Oleh karenanya Islam memisahkan antara seorang wanita dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Kaum wanita memiliki komunitas sendiri begitu juga dengan laki-laki. Dan karenanya kaum wanita dilarang masuk kedalam komunitas laki-laki kecuali karena darurat (keperluan yang sangat memaksa).

Tujuan syari’at menetapkan seperti itu adalah untuk menjaga kehormatan, memelihara nasab/keturunan, membentengi kesucian dan kemuliaan, menghindari keragu-raguan dan kehinaan, serta tidak menyibukkan kaum wanita dari melaksanakan tugas utamanya di dalam rumah. Maka dibuatlah ketentuan-ketentuan syari’at seperti berikut:

  1. 1. Tidak duduk berduaan tanpa mahram (orang yang tidak boleh di nikahi).

Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan seorang wanita kecuali bersama mahram, dan janganlah seseorang wanita bepergian kecuali bersama mahram. Lalu bertanyalah seorang laki-laki: “Istriku telah berangkat haji sementara aku telah ditetapkan untuk mengikuti peperangaananu, jadi bagaimana?” Rasulullah SAW menjawab: “Berangkatlah haji bersama istrimu.” (HR. Muslim : 3336)

“Tidak sekali-kali seorang wanita dan laki-laki menyendiri (berduaan), karena yang ketiganya adalah syetan, kecuali disertai mahramnya.” (HR. Ahmad : 16105)

“Hindarilah olehmu masuk rumah yang disitu ada wanita (yang bukan mahramnya).” Seorang laki-laki Anshar bertanya: “Bagaimana jika ‘al-hamwu’ (saudara istri/suami/adik/abang ipar).” Rasulullah menjawab: “Dia itu ‘al-maut’ (sangat berbahaya).” (HR. Bukhari : 5232)

Karena itu tidak boleh duduk berduaan dengannya.

  1. 2. Tidak boleh saling bersentuhan kulit (bersalaman/berjabat tangan).

Rasulullah SAW bersabda:

“Kepala salah seorang daripada kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik daripada menyentuk kulit wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrany)

“Aku tidak berjabat tangan dengan wanita, ucapanku kepada seratus wanita sama halnya dengan ucapanku kepada seorang wanita.” (HR. Nasa’I : 4192)

  1. 3. Tidak bepergian bagi wanita tanpa di sertai mahramnya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah seorang wanita bepergian, kecuali disertai oleh mahramnya dan jangan seorang laki-laki yang tidak halal baginya menjumpainya kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari : 1862)

“Tidaklah halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhir bepergian selama sehari semalam, padahal dia tidak disertai mahramnya.” (HR. Bukhari : 1088)

  1. 4. Tidak boleh bergaul dangan bebas.

Allah SWT berfirman:

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara wanita mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nur (24): 30-31)

Ayat ini memerintahkan agar para lelaki dan wanita membatasi  pandanganya agar tidak tidak liar sehingga tidak menembus apa yang diharamkan Allah SWT. Jika pandangan mata saja wajib dibatasi agar tidak menimbulkan godaan antara dua insan bagaimana lagi berpegangan, bersentuan dan lebih lagi berciuman dan berpelukan dengan penuh nafsu syahwat sehingga menimbulkan habungan kelamin yang terkutuk. Hubungan bebas yang berlaku ditengah kehidupan masyarakat jahiliyah, bagaikan virus yang menjalar dalam kehidupan kaum Muslimin, dan virus itu sudah membunuh perasaan malu yang menjadi ciri keimanan yang memutar roda kehidupan seseorang.

Allah SWT amat penyayang kepada hamba-hamba Nya dan karenanya diutuslah Rasul-Rasul Nya membawa hidayah Allah kepada umatnya agar mereka berpegang teguh kepada hidayah itu sehingga selamat di dunia dan akhirat. Barangsiapa mengambil petunjuk itu (Al Qur’an dan As Sunnah) maka selamatlah dia, sebaliknya jika menolak maka celakalah dia.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk Maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.” (QS. Azzumar 39: 41).

Semoga penjelasan ringkas ini bermanfaat untuk Muslimin dan Muslimah yang merindukan keselamatan dunia dan akhirat.

Wallahua’lam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Terkait

Tulisan Rekomendasi

Tulisan Terbaru

Tulisan Terpopuler

No Content Available