Keutamaan Jihad Di Jalan Allah

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
  1. Jihad di jalan Allah adalah amalan yang tertinggi martabatnya dalam Islam.
  2. Rasulullah bersabda kepada Muadz bin Jabal:

    “Sukakah aku khabarkan kepada engkau kepala segala urusan, tiangnya dan puncak ketinggiannya?” Saya (Muadz) berkata: “Pastilah wahai Rasulullah!” Jawab Rasulullah: “Kepala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncak ketinggiannya adalah Jihad.” (Sahih Sunan al-Tirmizi – no: 2616)

    Dalam sebuah hadis yang lain diriwayatkan bahawa Rasulullah bersabda:

    “Kepala urusan ini adalah Islam dan sesiapa yang memeluk Islam maka dia akan selamat, dan tiangnya adalah shalat dan puncaknya ketinggiannya adalah Jihad, tidaklah (sesiapa) mencapainya kecuali yang paling utama.” (Majma al-Zawa‘id (Bughyat al-Ra’id fi tahqiq Majma az-Zawa‘id) – no: 2167.)

    Kedua-dua hadis di atas jelas menerangkan puncak ketinggian Jihad dalam Islam. Ia juga adalah satu amalan yang menjanjikan kemuliaan kepada hamba yang mengamalkannya. Dengan Jihad Islam dan umatnya akan menjadi tinggi lagi mulia di hadapan seluruh umat yang lain di bumi ini sedangkan tanpa Jihad Islam dan umatnya akan menjadi hina lagi diperlecehkan.

  3. Jihad di jalan Allah adalah jalan utama bagi tegaknya Daulah Islamiyah, dan Allah menolong para Mujahidin dan menghinakan orang-orang kafir.
  4. Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman:

    “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan (sehingga) menjadilah agama itu semata-mata untuk Allah. Kemudian jika mereka berhenti maka tidaklah ada permusuhan lagi melainkan terhadap orang-orang yang zalim.” (QS. al-Baqarah 2: 193)

    “Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), Padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu?. Mengapakah kamu takut kepada mereka Padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. dan Allah menerima taubat orang yang dikehendakiNya. Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah 9: 13-15)

  5. Jihad di jalan Allah menjamin seseorang itu Syurga, diampun segala dosa dan diberi kemenangan Dunia dan Akhirat.
  6. Allah berfirman:

    “Wahai orang-orang yang beriman! Maukah Aku tunjukkan sesuatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab siksa yang sangat pedih? Iaitu, kamu beriman kepada Allah dan RasulNya, serta kamu berjihad membela dan menegakkan agama Allah dengan harta benda dan diri kamu; yang demikian itulah yang lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui (hakikat yang sebenarnya). (Dengan iman dan jihad itu) Allah akan mengampunkan dosa-dosa kamu, dan memasukkan kamu ke dalam taman-taman sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, serta tempat-tempat tinggal yang baik dalam Syurga “And”. Itulah kemenangan yang besar. Dan ada lagi limpah kurnia yang kamu sukai, iaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan yang cepat (masa berlakunya). Dan sampaikanlah berita yang mengembirakan itu kepada orang-orang yang beriman.” (QS. al-Shaff 61: 10-13)

    Rasulullah bersabda:

    “Allah menjamin bagi orang yang keluar di jalan Allah (fi sabilillah), (di mana) tidak dia keluar melainkan kerana iman kepada-Nya dan membenarkan Rasul-Nya, bahawasanya Dia akan mengembalikannya (kerumahnya) dengan mendapat pahala dari Allah atau membawa harta rampasan perang atau Dia memasukkannya ke dalam Syurga. Dan jika tidak memberatkan umaku, niscaya aku tidak akan ketinggalan menyertai ekspedisi perang. Sesungguhnya aku sangat ingin terbunuh di jalan Allah lalu dihidupkan lagi kemudian terbunuh dan dihidupkan lagi lalu terbunuh lagi.” (HR. Sahih al-Bukhari – no: 36)

    Rasulullah bersabda selanjutnya:

    “Sesungguhnya di dalam Jannah ada seratus derajat, Allah menjanjikannya bagi orang yang berjihad di jalan Allah. Jaraknya di antara dua derajat itu seperti langit dan bumi.” (HR Bukhari – no: 2581)

    Imam at-Tirmidzi menafsirkan derajat (tingkatan) dengan 100 tahun. Al-Imam an-Nasa’i menafsirkan derajat dengan 500 tahun.

    Rasullullah bersabda lagi:

    “Posisi (kedudukan) seseorang di dalam barisan perang fie sabilillah lebih utama di sisi Allah daripada Ibadah selama 60 tahun.” (HR ad-Daarimi – no: 2289)

    Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda:

    “Seorang berangkat berperang di pagi hari fie sabilillah atau petang hari, lebih baik daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya.” (HR Bukhari – no: 2583)

    Dari Muadz bin Jabal, Rasulullah bersabda:

    “Siapa yang berperang fie sabilillah sepanjang (selama) waktu memeras susu unta, wajib baginya masuk Jannah.” (HR Tirmidzi – no: 1581)

    Rasulullah bersabda:

    “Berdiri sesaat (satu jam) fie sabilillah lebih baik dari pada bangun di malam Lailatul Qadar di sisi Hajar al Aswad.” (HR Ibnu Hibban)

  7. Jihad di Jalan Allah adalah amal yang paling utama yang tiada tandingannya.
  8. Abu Hurairah berkata, Rasulullah ditanya:

    “Apakah yang dapat menyamai Jihad di jalan Allah ‘Azza wa Jalla ?” Baginda menjawab: “Kamu tidak akan mampu melakukannya.”Pertanyaan itu diulang dua atau tiga kali dan setiap kali pertanyaan. baginda menjawab: “Kamu tidak akan mampu melakukannya.” Pada kali ketiga baginda menjawab: “Perumpamaan seseorang Mujahid di jalan Allah adalah seumpama berpuasa, mendirikan shalat – berdiri membaca ayat-ayat Allah, dia tidak berhenti daripada puasa dan shalat tersebut sehingga kembalinya mujahid di jalan Allah Ta‘ala tersebut.” (HR. Sahih Muslim – no: 1878)

    Abu Hurairah juga melaporkan bahawa salah seorang sahabat Rasulullah berjalan-jalan di satu lembah, ternampak olehnya sebuah mata air yang indah sehingga mengkagumkan dia. Dia berkata: “Andainya saya mengasingkan diri dari manusia (uzlah) dan tinggal di lembah ini, akan tetapi saya tidak akan melakukannya melainkan setelah meminta izin daripada Rasulullah.”

    Maka hal ini dikhabarkan kepada Rasulullah lalu baginda menjawab:

    “Jangan melakukannya kerana sesungguhnya kedudukan seseorang kamu di (medan Jihad) di jalan Allah adalah lebih utama daripada melakukan shalat dalam rumahnya selama 70 tahun. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunkan bagi kamu dan memasukkan kamu ke dalam Syurga ? Berperanglah di jalan Allah, barangsiapa yang berperang di jalan Allah selama tempoh memerah susu unta maka wajib ke atasnya Syurga.” (HR. Sahih Sunan Tirmizi – no: 1650)

  9. Amalan Jihad di Jalan Allah dan berada di medan Jihad diberikan ganjaran berlipat ganda.
  10. Ganjaran yang diberikan oleh Allah kepada para Mujahid tidak terbatas kepada berperang saja. Apa saja yang berkaitan dan berhubungan dengan Jihad di Jalan Allah akan diberikan ganjaran dan keutamaan yang berlipat kali ganda. Allah berfirman:

    “Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh mengeluarkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai seratus biji. Dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (rahmat) kurnia-Nya, lagi Meliputi ilmu pengetahuan-Nya.” (QS. al-Baqarah 2: 261)

    Seorang yang mengulurkan bantuan kepada orang-orang yang pergi berjihad di Jalan Allah, dia akan diberikan ganjaran yang berlipat ganda. Bantuan yang diberikan bisa berupa wang, peralatan, makanan dan minuman, pakaian, perobatan, pengangkutan dan berbagai lagi.

    Khuraim bin Fatik berkata, Rasulullah telah menjanjikan:

    “Sesiapa yang menafkahkan satu perbelanjaan untuk Jihad di Jalan Allah maka ditulis baginya tujuh ratus ganda ganjaran.” (Sahih Sunan al-Tirmizi – no: 1625)

  11. Kematian didalam jihad merupakan kematian yang paling Mulia.
  12. Allah berfirman:

    “… Bagi orang yang mati syahid Allah tidak akan menyia-nyiakan pekerjaan mereka. Allah tunjuki dan perbaiki keadaan mereka, dan Allah masukkan mereka ke dalam Jannah yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka.” (QS Muhammad, 47: 4-6)

    Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda:

    “Tidak seorangpun yang telah masuk ke dalam Jannah ini kembali lagi hidup di dunia walaupun ia memiliki kekayaan sedunia melainkan orang-orang yang mati syahid. Maka sesungguhnya ia ingin dikembalikan ke dunia lalu ia terbunuh sebanyak sepuluh kali, karena ia melihat kemuliaan (orang yang mati syahid). Dan dalam satu riwayat, karena melihat keutamaan orang-orang yang syahid.” (HR Bukhari – no: 2606)

    Rasulullah bersabda:

    “Demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh aku ingin berperang fie sabilillah hingga terbunuh, kemudin hidup dan berperang lagi dan terbunuh, kembali berperang dan terbunuh.” (HR Bukhari – no: 35, 2588, 6685, 6686)

    Miqdam Ibnu Ma’dikariba berkata, bahwasanya Rasulullah bersabda:

    “Bagi orang yang syahid terdapat 6 hal yang akan diterimanya, yaitu: Pertama, Allah memberi ampunan ketika pertama kali bergerak dan akan melihat tempatnya di Jannah. Kedua, selamat dari siksa kubur. Ketiga, selamat dari goncangan hari kiamat. Keempat, akan diberikan kepadanya mahkota kebesaran yang terbuat dari permata Yaqut sebagai tanda kehormatan yang jauh lebih mahal daripada dunia seisinya. Kelima, akan dikawinkan dengan 72 bidadari. Dan keenam, dapat memberi syafa’at kepada 70 keluarganya.” (HR Ahmad – no: 16553, 17115; Tirmidzi – no: 1586; Ibnu Majjah – no: 2789)

  13. Medan jihad adalah destinasi perlancongan umat Islam.
  14. Abi Umamah melaporkan, bahawa seorang lelaki bertanya:

    “Wahai Rasulullah ! Izinkan aku untuk pergi melancong.” Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sesungguhnya perlancongan untuk umat aku adalah Berjihad di Jalan Allah ‘Azza wa Jalla.” (Sahih Sunan Abu Daud – no: 2486)

  15. Kematian adalah satu kepastian dan sebaik-baik tempat kematian adalah di medan Jihad di Jalan Allah.
  16. Allah berfirman:

    “Tiap-tiap diri (sudah tetap) akan merasai mati, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Kami (untuk menerima balasan).” (QS. al-Ankabut 29: 57)

    “Dan jangan sekali-kali engkau menyangka orang-orang yang terbunuh (yang gugur Syahid) pada jalan Allah itu mati, (mereka tidak mati) bahkan mereka adalah hidup (secara istimewa) di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki; (Dan juga) mereka bersukacita dengan kurniaan Allah (balasan mati Syahid) yang telah dilimpahkan kepada mereka, dan mereka bergembira dengan berita baik mengenai (saudara-saudaranya) orang-orang (Islam yang sedang berjuang), yang masih tinggal di belakang, yang belum (mati dan belum) sampai kepada mereka, (iaitu) bahwa tidak ada kekhawatiran (dari berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap mereka, dan mereka pula tidak akan berdukacita.” (QS. Ali ‘Imran 3: 169-170)

    Imam Muslim bin Hajjaj dalam kitab Sahih-nya telah meriwayatkan sebuah kisah benar tentang seseorang sahabat Rasulullah yang sangat-sangat menginginkan kehidupan yang bahagia di Hari Akhirat, di dalam Syurga Allah. Kisah ini berlaku di saat Perang Badar, apabila Rasulullah memberi perintah kepada tentera Islam untuk maju ke barisan terdepan:

    “Bangkitlah ke arah Syurga yang seluas langit dan bumi !” Berkata ‘Umair bin al-Hammam al-Ansari: “Wahai Rasulullah ! Syurga yang seluas langit dan bumi ?”

    Baginda menjawab: “Ya”Berkata Umair: “ Bakhin!bakhin !Beruntunglah ! Beruntunglah !”

    Bersabda baginda: “Mengapa engkau berkata Bakhin ! bakhin ! Beruntunglah ! Beruntunglah ! ?”

    Berkata Umair: “Tidak mengapa, Demi Allah wahai Rasulullah, aku hanya ingin menjadi salah seorang daripada penghuninya.”

    Rasulullah bersabda: “Maka sesungguhnya engkau termasuk ahlinya.”

    Lalu Umair mengeluarkan beberapa biji kurma dari tempat simpanan dan memakannya, kemudian berkata: “Jika saja aku hidup untuk makan kurma ini pasti ia adalah kehidupan yang lama.”Maka dibuangnya kurma tersebut kemudian terus ke medan peperangan sehinggalah dia terbunuh.” (HR. Sahih Muslim – no: 1901)

    Demikianlah kesungguhan seseorang untuk mengejar Syurga Allah yang seluas langit dan bumi, memakan beberapa biji kurma terasa sebagai satu tempo waktu yang amat lama dan panjang untuk disia-siakan.

  17. Medan Jihad adalah tempat menyaksikan mukjizat Allah.
  18. Lazimnya mukjizat Allah hanya dikurniakan kepada para Rasul-Nya dan hanya dapat disaksikan oleh umat yang hidup sezaman dengan Rasul tersebut. Namun ada segolongan lagi umat yang layak untuk melihat mukjizat-mukjizat Allah, iaitu mereka yang turun ke medan Jihad memerangi kaum kufar demi menegakkan kalimah Allah.

    Mukjizat Allah adalah segala keistimewaan dan keajaiban yang berlaku di luar kebiasaan kehidupan. Salah satu daripada kemukjizatan ini adalah sebagaimana khabar Allah ‘Azza wa Jala:

    “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. al-Anfal 8: 17)

    Dalam peristiwa perang Badar, diterangkan bahawa apabila para Mujahid mengayun pedang ke arah musuh, banyak tentera musuh yang gugur sekalipun mereka itu berada di luar jarak jangkaun pedang. Apabila tentera Muslim melempar tombak dan panah, banyak tentera musuh yang gugur sekalipun yang dilempar hanyalah satu tombak atau satu anak panah. Kerana itu para Mujahid yang sedikit berjaya mengalahkan tentera kafir banyak jumlahnya. Semua kemukjizatan ini adalah kerana bantuan Allah kepada orang-orang yang membantu agama-Nya, sebagaimana janji Allah:

    “Wahai orang-orang yang beriman, kalau kamu membela (agama) Allah nescaya Allah membela kamu (untuk mencapai kemenangan) dan meneguhkan tapak pendirian kamu.” (QS. Muhammad 47: 7)

    Bantuan Allah boleh wujud dalam pelbagai cara yang sukar digambarkan dengan perkataan. Akan tetapi Allah Ta‘ala telah sedia mengkhabarkan sebahagian daripadanya di dalam al-Qur’an. Antaranya diturunkan pasukan tentera daripada kalangan malaikat:
    “… Sesungguhnya Aku (Allah) akan membantu kamu dengan seribu (bala tentera) dari malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal 8: 9)

    “Bahkan jika kamu bersabar dan bertaqwa, dan mereka (musuh) datang menyerang kamu dengan serta-merta, nescaya Allah membantu kamu dengan lima ribu malaikat yang bertanda. Dan Allah tidak menjadikan bantuan tentera malaikat itu melainkan kerana memberi khabar gembira kepada kamu, dan supaya kamu tenteram dengan bantuan itu. Dan (ingatlah bahwa) pertolongan yang membawa kemenangan itu hanya dari Allah Yang Maha kuasa, lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali ‘Imran 3: 125-126)

Oleh: Ust. Abu Muhammad Jibriel Abdurrahman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Terkait

Tulisan Rekomendasi

Tulisan Terbaru

Tulisan Terpopuler