MARTABAT LAKI-LAKI DALAM PANDANGAN ISLAM

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram

Bismillahirahmanirrohim……….

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”(Qs. An-Nisa; 4 : 34)

Ibarat sebuah ungkapan: “Setiap orang memiliki kelebihan pada kelebihannya, dan memiliki kekurangan pada kekurangannya. Oleh karena itu tak seharusnya manusia merasa lebih penting dan meremehkan orang lain. Akan tetapi hendaknya merasa tidak berarti apa-apa tanpa kebersamaan yang lainnya”.

Allah Malikurrahman telah menjadikan perbedaan antara laki-laki dengan wanita, dalam susunan badannya, bentuk dan sifatnya, kulit dan dagingnya, tulang dan darahnya, kepala dan rambutnya, akal dan pikirannya, kekuatan tubuh dan anggota-nya, jenis kelamin nya dan seterusnya.

Perbedaan-perbedaan itu jelas mengandung hikmah yang banyak, dan manusia, baik laki-laki maupun wanita, tidak akan dapat membantah dan menyangkalnya. Dengan perbedaan itu, mereka berdua dapat saling mengerti, cinta mencintai, sayang menyayangi dan selanjutnya mereka juga dapat saling kuasa menguasai.

Sekiranya antara laki-laki dan wanita tidak dijadikan berlainan sifatnya dan tidak berbeda bentuk dan susunan tubuhnya, maka sulit dibayangkan mereka dapat bergaul dan hidup secara harmonis. Sebab kenyataannya, alam ini dibentuk dan diciptakan  oleh Allah atas dasar perbedaan satu sama lainnya.

Oleh karena itu, manusia baik laki-laki maupun wanita hendaklah insyaf dan sadar, janganlah timbul rasa iri hati dan salah sangka terhadap adanya corak dan perbedaan sifat-sifat antara mereka. Jangan pula terjadi salah dan silap dalam meletakkan serta menggunakan perbedaan itu. Karena jika keliru, niscaya akan mengaki batkan malapetaka yang sangat dahsyat terhadap diri  manusia itu sendiri.

Allah berfirman:

Sunnah Allah yang berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunnah Allah itu”. (Qs. al-Fath; 48 : 23)

Dalam hal ini, sunnah Allah adalah sunnah yang tetap dan mutlak, ia tidak dapat berubah karena situasi budaya dan tingkat pemikiran manusia. Jika manusia hendak mengubah sunnah Allah, pasti akan hancur dan binasa.

Allah berfirman:

“Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Allah telah membinasakan mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat) seperti itu”. (Qs.  Muhammad; 47 : 10)

Demikianlah Allah memberi peringatan kepada manusia agar tidak menukar dan melawan sunnah Allah yang telah ditetapkan. Allah Maha Mengetahui tentang hamba-hamba-Nya. Ia ciptakan baginya  hukum dan syariat agar menjadi ikutannya. Maka dengan hukum itu, bila dita’ati, pasti mereka akan selamat di dunia dan akhirat. Sebab Allah. dengan qudrat dan iradat-Nya, dengan ilmu dan hikmah-Nya, mustahil akan membuat peraturan yang akan membinasakan manusia.

Kerelaan untuk menta’ati-Nya, merupakan garansi (jaminan) bagi keselamatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Untuk dapat mengetahui dan lebih memahami posisi atau martabat laki-laki atas wanita, perlu sekali kita mengetahui fitrah dan tabiat wanita. Dengan demikian diharapkan para pembaca lebih mudah memahami uraian-uraian berikutnya, sekaligus dapat mengambil kesimpulan yang benar dan memadai.

TABIAT DAN FITRAH KEJADIAN WANITA

Beberapa catatan berikut bersumber dari data-data para ahli kedokteran (baik yang muslim maupun yang non muslim) para filosof, dan ahli pengetahuan firasat kepala .1

1.    Perasaannya

Di dalam Encyclopedy Daairatil Ma’arief XIX disebutkan, bahwa susunan badan wanita itu hampir sama dengan badan kanak-kanak. Oleh karena itu wanita mempunyai perasaan yang amattajam sekali, seperti suka cita, duka cita, kuatir dan lain-lain. Lantaran peristiwa itu dapat mempengaruhi kenang-kenangan yang tidak disertai dengan akal, karena itu dalam menghadapi problema kehidupan, wanita cenderung kurang tahan lama dan sabar. Dikatakan juga bahwa laki-laki itu banyak kecerdikan dan kecerdasan, sedangkan wanita lebih  banyak rewel dan ke-kacauannya, dan perasaan wanita  lebih tajam dan halus daripada perasaan laki-laki.

2.    Akal dan Fikirannya

Dikatakan bahwa kepala laki-laki dewasa bagian dalam lebih besar dari pada kepala wanita. Bahkan besarnya kadang-kadang lebih sejari atau dua jari. Ini salah satu bukti yang menunjukan bahwa akal fikiran laki-laki itu  lebih banyak dari pada akal fikiran wanita.

Soekarno (Presiden pertama Republik Indonesia) dalam bukunya berjudul Sarinah, menulis: “Ada saja orang yang mencari alasan untuk membuktikan baha kaum wanita tidak mungkin bisa menyamai, apalagi akan melebihi ketajaman otak laki-laki. Orang mengatakan bahwa otak wanita kalah banyak dengan  laki-laki. Kemudian orang menampilkan angka-angka berdasarkan penyelidikan para ahli sebagai berikut:2

Berat otak rata-rata

Nama Penyelidik Laki-laki Wanita

Bischoff                           1362 gram               1219 gram

Boyd                               1325 gram               1219 gram

Marchand                      1399 gram               1183 gram

Retzius                           1388 gram               1248 gram

Grosser                           1388 gram               1252 gram

Nah, kata mereka, mau apalagi. Kalau ambil Retzius dan Grosser maka rata-rata berat otak laki-laki : 1388 gram sedang wanita 1254 gram. Mau apalagi? Ternyata otak laki-laki memang lebih banyak dari otak wanita. Ini juga yang dilupakan, bahwa jago-jago laki-laki mempunyai tubuh jauh lebih besar dan berat daripada wanita.

3.    Kekuatan Badannya

Para ahli mengatakan, bahwa kekuatan seorang wanita tidak dapat disamakan dengan kekuatan seorang laki-laki. Jika olah-ragawan berlomba atau bertanding dalam berbagai permainan olahraga dengan olahragawati, niscaya para jagoan wanita akan kalah jauh tertinggal dibelakang laki-laki. Para ahli juga mencatat, bahwa orang laki-laki berlari 100 meter masih kelihatan cepatnya, sedang wanita  dalam jarak 50 meter saja sudah kelihatan tidak dapat lari dengan cepat. Dalam olah raga loncat tinggi, wanita mencapai 5 kaki lebih, sedang orang laki-laki mencapai 6 kaki lebih. Dan dalam loncat jauh, wanita dapat mencapi 19 kaki  lebih sedangkan orang laki-laki 26 kaki lebih. Begitu juga dalam olah raga tolak peluru, laki-laki dapat mencapai 55 kaki lebih, sedangkan wanita hanya mencapai 44 kaki saja. Catatan tersebut di atas ditulis 60 tahun yang lalu.

4.    Bentuk dan Sifatnya

Bentuk tubuh dan susunan anggota badan wanita banyak perbedaannya dengan bentuk dan susunan badan laki-laki. Penyelidikan para dokter ahli menyimpulkan bahwa kumpu-lan daging wanita banyak kurangnya, lebih lemah dari daging laki-laki sekitar sepertiganya, geraknya tidak cepat dan kurang teratur, struktur kulitnya lebih tipis, maka keadaannya pun lebih lunak dan lebih halus.

5.  Kulit dan Dagingnya

Jelas banyak bedanya. Kulit wanita pada umumnya halus dan lunak, warnanya lebih baik daripada kulit laki-laki. Dagingnya lemah dan ujungnya lebih lummat dan lebih lembut. Sedang kulit laki-laki lebih kasar dan lobang pori-porinya kelihatan kasar dan besar.

6.    Anggota Tubuhnya

Para ahli mengatakan, bahwa perbedaan wanita daripada laki-laki bukan hanya pada alat kelamin dan keturunannya saja. Pada anggota tubuhnya juga terdapat perbedaan meskipun nampaknya ada kesamaan. Bahkan dalam anggota tubuh ituterdapat perbedaan khusus yaitu anggota tubuh wanita banyak mengandung halia yang di dalamnya banyak terdapat lemak.

7.  Darah dan tulangnya

Darah dan tulang laki-laki dan wanita jauh berbeda. Saluran darah wanita dan urat syarafnya lebih mudah dan subur daripada laki-laki. Tulangnya pun ada juga perbedaannya, terutama tulang dada dan punggung, serta tulang pinggang. Bentuk susunan tulang wanita nampak lebih sukar terutama ketika berjalan, sehingga wanita cara jalannya bervariasi gayanya.

8.    Kepala dan Rambutnya

Pada umumnya kepala wanita kecil, tulang dahinya kurang terbuka dan menghadap ke arah hidung. Oleh karena itu akal pikirannya agak kurang, sehingga dalam pengambilan keputu-san seorang wanita dinomor duakan. Umumnya rambut wanita lebih panjang dan subur. Kebanyakan orang mengatakan bahwa wanita berambut panjang dan fikirannya pendek.

Demikianlah uraian para ahli kedokteran dalam penelitian-nya tentang fitrah dan tabiat kejadian wanita. Meskipun uraian di atas tidak seluruhnya betul, namun mungkin ada beberapa perkara yang boleh digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mengenal lebih jauh tentang kepribadian wanita.

Dengan memahami data-data yang ditulis oleh para ahli itu, diharapkan kita dapat lebih mudah memahami ayat-ayat yang menerangkan persoalan kedudukan laki-laki dan wanita berdasarkan kitab suci Al-Qur’an.

  • LELAKI SATU DERAJAT DI ATAS WANITA

Kemaslahatan paling besar yang dibawa Islam melalui Al-Qur’an adalah perkara wanita yang tertera di dalam surat Al-Baqarah ayat 228, yaitu:

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya dengan cara ma’ruf. Akan tetapi laki-laki mempunyai satu derajat tingkatan dari wanita” (Qs. Al-Baqarah; 2 : 228).

Ayat ini merupakan dalil yang menolak dan melumpuhkan semua konsep dan teori yang telah banyak dipaparkan dalam mass media dan buku-buku. Pandangan dan tradisi-tradisi yang memberi hak kepada kaum laki-laki untuk berlaku sewenang-wenang, melampaui batas, bertindak kejam terhadap kaum wanita yang lemah, dengan perlakuan yang buruk dan jahat terhadap diri, harta dan anak-anak mereka.

Ayat ini juga merupakan ungkapan indah yang menghimpun banyak hikmah, yang hanya mungkin bisa diterangkan dalam uraian yang panjang. Ia merupakan kaidah umum yang me-nerangkan bahwa kaum wanita memiliki derajat yang sama dengan kaum laki-laki dalam hak mereka, kecuali satu hal yang diungkapkan dalam kalimat, “Lelaki mempunyai kelebihan satu derajat di atas wanita”.

Adapun derajat dimaksud dijelaskan dalam firman Allah:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”. (Qs.An-Nisa’,4:34)

Teks ayat di atas menyatakan, bahwasanya yang berhak memegang tampuk kepemimpinan adalah kaum laki-laki. Karena kaum laki-laki memiliki kelebihan di atas kaum wanita, yang ter-bukti dengan pengkhususan tugas kenabian dan kerasulan bagi kaum laki-laki. Demikian pula bagi pemimpin bangsa dan negara! Dalam pemerintahan Islam Rasulullah tidak memper-bolehkan kaum wanita menjadi pemimpin bagi laki-laki dengan sabdanya:

Sekali-kali tidak akan beruntung (mencapai kemenangan) suatu kaum yang menyerahkan pimpinannya kepada seorang wanita.”  (HR. Bukhari)

Tidak sekali-kali akan mencapai keberuntungan selamanya kaum yang menjadikan urusan kepemimpinan mereka kepada kaum wanita”. (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam menafsirkan surat An-Nisa’: 34, Al-Ustadz Muhammad Rasyid Ridha menyatakan:3 “Sudah merupakan ketentuan bagi kaum laki-laki untuk menjadi pemimpin bagi kaum wanita. Allah I memberikan anugrah tersebut karena kaum laki-laki mempunyai kemampuan dan kekuatan yang tidak dimiliki kaum wanita. Latar belakang pemberian kelebihan ini mengakar pada fitrah dan tabiat kejadiannya. Ada juga sebab lain yang sifatnya dapat diusahakan, seperti nafkah yang diberikan kaum laki-laki kepada kaum wanita. Termasuk juga mahar (mas kawin), adalah pemberian kepada kaum wania seiring dengan tekad perjanjian waktu pernikahan yang sekaligus menempatkan wanita di bawah pimpinan kaum laki-laki.

Syari’at Islam memposisikan wanita di tempat yang mulia dan terhormat. Islam hanya memberikan tanggung jawab dan kewajiban sesuai dengan fitrah kejadiannya. Dalam surat al-Baqarah ayat 228, menerangkan seakan-akan kaum wanita ditentukan untuk tidak memiliki persamaan yang penuh, karena kaum laki-laki diberikan satu derajat yaitu kepemimpi-nan, dan diganti dengan pemberian harta benda (nafkah) kepada kaum wanita.

Al-Ustadz Muhammad Abduh mengatakan:4 “Bahwa yang dimaksud dengan kelebihan di antara mereka atas sebagian yang lain adalah kelebihan yang diberikan kepada kaum laki-laki atas kaum wanita”. Ungkapan ini akan lebih jelas dan terang dalam firman Allah berikut:

Dan janganlah kamu berangan-angan dan iri hati terhadap kelebihan yang dikaruniakan Allah lebih banyak kepada sebagian yang lain”. (Qs. An-Nisa’,4 : 32)

Syeikh Muhammad Rasyid Ridha mengatakan, “Saya ungkapkan latar belakang turunnya ayat ini dalam tiga buah hadits:

1.    Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Mujahid, bahwa Ummu Salamah (istri Rasulullah ?) berkata: “Kaum laki-laki kita ber-perang sedang kita kaum wanita tidak, sedang dalam pem-bagian warisan kita hanya mendapat separuh dari mereka.”

2.    Diriwayatkan dari Ikrimah bahwa ada beberapa orang wanita datang kepada Nabi ? bertanya tentang jihad. Mereka berkata: “Kami ingin agar Allah mewajibkan perang kepada kami, sehingga pahala kami sama dengan yang diperoleh kaum laki-laki.”

3.    Diriwayatkan dari Qatadah dan Assudi, katanya, “Untuk laki-laki dua bagian wanita”. Ada seorang laki-laki berkata: “Kami ingin memiliki kebajikan yang lebih banyak daripada kaum wanita sebagaimana kelebihan kami dalam hal warisan, sehingga dengan demikian pahala kami di akhirat dua kali lipat dari pahala kaum wanita”. Mendengar itu kaum wanita pun menyahut: “Kami ingin agar dosa kami di akhirat kelak separuh dosa kaum laki-laki sebagaimana bagian pusaka kami separuh bagian mereka di dunia.”

Al-Ustadz Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya tentang Asbabun Nuzul (sebab turunnya) ayat di atas sebagai berikut :

1.    Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Said bin Jubair bahwa Ibnu Abbas berkata: “Seorang wanita mengadu kepada Rasulullah ? dengan kata-katanya, ”Ya Nabi Allah! Laki-laki mendapat dua bagian kaum wanita dalam warisan dan dua orang saksi wanita sama dengan seorang saksi laki-laki. Apakah di dalam beramal pun demikian juga (yaitu amal baik seorang wanita mendapatkan pahala setengah dari jumlah pahala laki-laki)?”. Lalu Allah turunkan ayat ini, ”Jangan kamu iri hati, karena ini adalah suatu kejadian daripada-Ku dan Aku yang membuatnya”.

2.    Menurut Abdur Razak yang didengarkan dari seorang tua penduduk Makkah, ayat ini turun sehubungan dengan keluhan wanita-wanita muslimah yang berkata: “Coba kita menjadi laki-laki, niscaya kita dapat berjihad seperti mereka dan berperang di jalan Allah”. Begitulah ucapan-ucapan mereka, lalu turunlah ayat tersebut di atas, memberi kata putus terhadap sengketa yang terjadi di kalangan mereka.

Selanjutnya kita lihat uraian Al-Ustadz Muhammad Abduh:

“Sebab yang menimbulkan adanya riwayat-riwayat yang membingungkan dalam memahami dan menangkap makna ayat tersebut di atas amat jelas sekali, yaitu karena Allah telah menetapkan bidang-bidang amal bagi laki-laki dan wanita. Ada yang khusus diperuntukkan bagi kaum laki-laki, yaitu memiliki pahala yang tidak dimiliki kaum wanita. Maka itu tidak sepatutnya seseorang berangan-angan dan iri hati terhadap bagian yang secara khusus diperuntukan untuk orang lain”.

Selanjutnya beliau berkata: “Teks ayat tersebut ditujukan kepada dua belah pihak sekalipun kaum laki-laki tidak pernah berangan-angan menjadi wanita seperti melahirkan, menyusui dan memelihara anak. Tetapi justru kaum wanita yang berangan-angan mengerjakan pekerjaan kaum laki-laki. Ada dikalangan mereka yang ingin melakukan sesuatu pekerjaan yang memerlu-kan kekuatan fisik laki-laki. Keluhan kaum wanita telah dijawab oleh Al-Qur’an dengan memperlihatkan betapa Islam mem-perhatikan kaum wanita dan bersikap lembut kepadanya, memang mereka perlu dikasihani karena kelemahan mereka dan karena keikhlasan mereka dalam berangan-angan itu.”

“Hikmah yang terkandung di dalam keluhan wanita di zaman Rasulullah itu tidak memperlihatkan keinginan dalam menuntut kehidupan material, justeru merupakan suatu penghormatan bagi mereka. Tuntutan seperti itu (berperang seperti kaum laki-laki) sungguh merupakan suatu yang amat ganjil sekali.” Demikian penjelasan Muhammad Rasyid Ridha.

Kembali kepada persoalan tuntutan persamaan hak wanita zaman modern, zaman kemajuan dalam segala dimensi ke-hidupan. Adakah yang mereka tuntut sebagaimana tuntutan para wanita shalihah zaman dahulu, yaitu dalam hal ibadah dan amal shalih.

Dalam keterangan-keterangan yang telah kita paparkan di atas, tidak sedikitpun mengandung tuntutan menjadi pemimpin, sebagaimana laki-laki menjadi pemimpin. Tidak menuntut supaya bebas ke luar bergaul dengan kaum laki-laki, berpakaian seperti laki-laki, supaya bebas ke luar ke mana ia suka, mencari rezeki, supaya bekerja di kantor, pabrik-pabrik untuk mem-peroleh gaji yang sama dengan kaum laki-laki.

Wahai wanita Islam, Muslimat dan Mujahidah……….!

Masih adakah keinginan Anda sekalian menuntut persamaan hak sebagaimana tuntutan wanita kafir di negeri barat yang tidak mengetahui seluk beluk ajaran Islam? Islam mengajarkan sopan santun dan perilaku yang mengandung kebaikan untuk manusia. Tidakkah Anda merasa puas dengan kedudukan yang diberikan oleh Islam? Derajat yang mulia dan kehormatan agung yang tidak diperoleh di dalam agama-agama lain di dunia ini. Anda sekalian adalah ibu-ibu dari kaum laki-laki, saudara-saudara mereka. Anda adalah inti masya-rakat manusia dan penegak negara dan bangsa. Anda adalah pokok generasi manusia mendatang, ketiadaan Anda maka akan musnahlah generasi manusia.

Anda dilahirkan ke dunia sebagai pasangan laki-laki, sebagai teman hidup, pendamping dan penenteram jiwa mereka di kala kesepian. Cukupkanlah diri Anda semua dengan Islam, patuhilah segala aturan hukum dan syariatnya. Jangan mencari-cari sesuatu kemuliaan, kepopuleran, ketinggian dan kebahagia-an serta penghormatan di luar Islam. Sungguh! Demi Allah, Anda semua tidak akan pernah memperolehnya untuk selama-lamanya, meskipun Anda mampu mengelilingi dunia ini. Pernahkah Anda mendengar dan membaca kisah seorang wanita terkenal, bintang film Hollywood di Amerika? Setelah ia mampu berkeliling dunia karena kemasyhurannya di bidang tarik suara dan bintang film. Setelah ia tua, kecantikannya mulai berkurang, kulitnya sudak keriput, lagu dan gayanya sudah tidak menarik lagi kepada peminatnya, akhirnya ia menghadapi hidupnya dengan keluh kesah, penuh penyesalan dan penderitaan.

Siapakah dia bintang film terkenal itu…. ?

Dialah seorang wanita bernama, Marilyn Monroe. Orang-orang telah membuka surat yang ditulisnya sendiri, disimpan dalam laci Manhattan Bank, New York. Surat itu ditemukan oleh anggota Bank tersebut yang berisikan pesan-pesannya di saat menjelang ia akan melakukan bunuh diri. Pada sampul suratnya ada tertulis perkataan yang berbunyi, “Surat ini tidak boleh dibuka sebelum aku meninggal dunia”. Setelah surat itu dibuka oleh pihak yang berhak, maka terdapatlah tulisan yang dialamatkan kepada seorang wanita yang pernah meminta nasehatnya mengenai karirmenjadi bintang film dan bekerja di bidang perfilman.

“Aku peringatkan kepada setiap orang yang ingin menipu Anda dengan sinar. Bahwa aku adalah seorang wanita yang paling sengsara di dunia ini. Aku tidak sanggup menjadi seorang ibu. Jiwaku selalu merasa sedih. Sebenarnya aku ini adalah seorang wanita yang lebih mengutamakan hidup rumah tangga. Kehidupan suami istri berikut anak-anak adalah lebih mulia dari segala-galanya. Kebahagian seorang wanita sebenar-nya di rumah tangga, mulia menurut dhahirnya. Kehidupan suami istri itu adalah rumus dari kebahagiaan dunia, juga bagi manusia seluruhnya”.

Pada bagian selanjutnya dari isi surat tersebut, Marilyn Monroe mengeluh dengan kata-katanya: “Tiap-tiap orang menganiaya aku. Bekerja di bidang perfilman menjadikan seorang wanita sebagai barang dagangan yang murah, dan bukan alang kepalang murahnya, manakala ia telah mencapai puncak keagungan dan kemasyhuran yang palsu. Oleh karena itu aku nasehatkan pada wanita, “Janganlah terjun ke dunia perfilman. Orang-orang yang bekerja di sana dan menjadi bintang film, maka nanti akan mengakhiri hidupnya seperti aku ini.5

Ini adalah suatu kesan penyesalan seorang wanita kafir yang populer di masa mudanya. Oleh karena itu kepada para muslimah yang belum puas dengan Islam, dan terus menuntut kebebasan serta persamaan hak atas  nama emansipasi, katakan kepada mereka: “Dan Allah menciptakan istri-istri bagimu dari jenismu dan ia jadikan bagimu anak-anak dan cucu melalui istri-istrimu..(Qs. an-Nahl,16: 72)

Dan tidaklah laki-laki itu seperti wanita”. (Qs. Ali Imran, 3 : 36)

Tiga dalil pertama menjelaskan bahwa derajat laki-laki dan wanita di hadapan Allah adalah sama. Sedangkan pada ayat atau dalil yang keempat menyatakan bahwa laki-laki itu tidak sama dengan wanita.

Supaya pemahaman kita tidak simpang siur dalam memahami dalil di atas, kita ikuti uraian Al-Ustadz Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat 36 surat Ali Imran. Beliau berkata: “Istri Imran, Ibu Maryam adalah Hannah binti Faqus. Ia seorang perempuan yang  mandul, tidak pernah mengandung. Pada suatu hari ia melihat seekor burung memberi makan anaknya, lalu timbul keinginannya yang kuat untuk mendapatkan anak. Berdo’alah ia, memohon kepada Allah, agar berkenan mengabulkan keingin-annya. Maka setelah merasa ia mengandung, iapun bernazar akan menyerahkan putranya yang sedang dikandung untuk berkhidmat di Baitul Maqdis.

“Aku menadzarkan apa yang ada di dalam kandung-anku untuk berkhidmat kepada-Mu, ya Rabbi. Terimalah nadzarku ini. Engkau Maha Mendengar do’aku, Maha Mengetahui niatku”.

Ia sebenarnya mendambakan anak laki-laki, namun tatkala mengetahui bahwa anak yang lahir adalah wanita, berkatalah istri Imran. “Ya…..Rabbi, aku telah melahirkan seorang wanita dan aku telah menamainya Maryam, padahal Allah lebih mengetahui tentang jenis kelamin apa yang ia lahirkan, dan bahwa seorang laki-laki tidaklah seperti seorang perempuan, baik kekuatan fisik dan kesanggupan serta kemampuan beribadah maupun berkhidmat di Baitul Maqdis.

Dari keterangan di atas, jelas bagi kita bahwa laki-laki itu lebih kuat fisik, kemampuan, kesanggupan, fikiran, perasaan dan keteguh an pendirian di dalam menghadapi kesulitan dan ujian hidup. Dengan demikian jelaslah kemaha adilan Allah dalam memberikan perbedaan antara laki-laki dan wanita dalam beberapa hal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Terkait

Tulisan Rekomendasi

Tulisan Terbaru

Tulisan Terpopuler

No Content Available