Metode Mencari Ilmu

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram

Perangkat Mencari Ilmu

Allah swt telah memberikan kepada manusia tiga perangkat untuk dapat mengenal Rabb-nya, yaitu; pendengaran, penglihatan dan hati. Allah swt berfirman.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl: 78)

Maka siapa yang menyia-nyiakan tetaplah baginya jahannam, seperti firman-Nya:

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunya hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunya telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raf: 179)

Metode Thalabul Ilmi Syar’i

  1. Pada masa salaf
  2. Berkata Ibnu Syirin:

    Sesungguhnya ilmu itu adalah dien, maka lihatlah kepada siapa kamu mengambil ilmunya.

    Para salaf tidak menuntut ilmu kecuali kepada ahlinya, yaitu para ulama yang tsiqah (terpercaya) dan termasyhur ke dalam ilmunya, sehingga mereka mengadakan rihlah dalam thalabul ilmi sampai ke negeri-negeri yang jauh.

    Ibnu Abbas berkata, “Dulu kami jika mendengar seseorang berkata ‘Rasulullah bersabda begini’, kami cepat-cepat memperhatikan dan mendengarnya. Akan tetapi setelah terjadi kesulitan pada manusia dan mereka mempermudah urusan (terjadinya fitnah), kami tidak mengambil dari mereka kecuali orang-orang yang kami ketahui (ketsiqahannya).”

    Khatib Al-Baghdadiy berkata:

    Jika seseorang hendak belajar hanya kepada beberapa ulama saja, maka hendaklah dia memilih para ulama yang sudah masyhur ketekunan (kejelian) dan ilmunya.

    Ibrahim An-Nakhaiy berkata:

    Mereka (para salaf) jika mendatangi para alim untuk mengambil ilmu darinya melihat kepada sifat-sifatnya, shalatnya dan keadaannya, baru kemudian mengambil ilmu darinya.

  3. Pada masa kini
  4. Sedikitnya ulama pada masa kini terutama yang sampai derajat mujtahid menjadikan sulitnya thalabul ilmi untuk bisa bermulazamah kepada mereka seperti yang pernah dilakukan salaful ummah.

    Rasulullah saw bersabda:

    “Sesungguhnya di antara tanda dekatnya hari kiamat adalah sedikitnya ilmu dan tersebarnya kebodohan.” (HR. Al-Bukhari) dalam riwayat Muslim: “akan diangkat ilmu”.

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengangkat ilmu dengan seketika dari manusia tetapi dengan mematikan ulama, sampai apabila tidak ada seraong alim pun, manusia akan mengangkat pemimpin yang bodoh yang ketika ditanya ia akan berfatwa tanpa ilmu, maka ia sesat dan menyesatkan mereka itu.” (HR. Bukhari Muslim)

    Adapun bagi thalibul ilmu syar’I, cara terbaik dalam mempelajari ilmu dien adalah sebagaimana Syeikh Utsaimin berkata, hendaklah thalibul ilmi memulai dengan:

    1. Kitabullah beserta tafsirnya (seperti tafsir Ibnu Katsir).
    2. Sunnah Rasulullah yang shahih (seperti Shahih Bukhari, Muslim dan Sunan Arba’ah) beserta syarahnya (seperti Fathul Bary dan Nailul Authar).
    3. Kitab-kitab fiqh (seperti Al-Majmu’ karangan Imam Nawawy, Al-Mughny karangan Ibnu Qudamah).
    4. Kitab-kitab para ulama yang memiliki otoritas keilmuan yang tinggi, seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim.
    5. Kitab-kitab Ma’ashir karangan par aulama yang merujuk pada ulama salaf.

Sumber: Buku Panduan Daurah Syar’iyah Untuk Penegakan Syari’ah Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Terkait

Tulisan Rekomendasi

Tulisan Terbaru

Tulisan Terpopuler

No Content Available