Seruan Ke Arah Tathbiqussyari’ah

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram

Kesadaran untuk berjuang dan bertekad menegakkan Syari’ah Islam serta meninggikan kalimat Allah. Itulah sebenarnya keperluan yang paling asasi dan prinsipil dalam kehidupan seorang muslim.

Kehidupan seorang muslim tidak akan berarti apa-apa manakala dia tidak melaksanakan hukum Allah. Perbedaan antara hayatul bahimiyah dan hayatul hakikiyah, terletak dalam masalah ini. Hayatul bahimiyah, yaitu prilaku hidup kebinatangan yang ada pada diri manusia di mana hidup hanya untk makan, minum, bernapas, berkeluarga dan lain sebagainya. Dalam hal ini antara manusia dan binatang atau makhluk yang lain sebenarnya bersekutu atau berserikat. Bahkan dalam bertasbih pun, yaitu memahasucikan Allah, manusia bersekutu dengan binatang atau makhluk ciptaan Allah lainnya. Firman Allah swt:

“Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langin dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia lah yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” (QS. As Shaff, 61:1).

Terbuktilah bahwa selain manusia, segala yang ada di langit dan bumi seluruhnya bertasbih memuji Allah. Oleh karena itu apabila hidup kita ini hanya untuk sekedar makan dan minum kemudian ditambah sedikit bertasbih saja, maka apalah bedanya antara manusia dengan binatang.

Akan tetapi manusia diberi oleh Allah kehormatan dan kemuliaan, sebagaimana firman-Nya:

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al Israa’, 17:70).

Bahwasanya bani Adam atau manusia seperti kita ini telah diberi amanah oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi ini. Khalifah dalam pengertian bahwa kita diberi amanat untuk mengambil dan mengatur bumi Allah ini dengan Syari’ah-Nya. Di situlah letak nilai kemanusiaan sesungguhnya, dan itulah hakikat daripada firman Allah swt:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tiin, 95:4-6).

Sesungguhnya telah diciptakan manusia itu sebaik-baik bentuk untuk kemudian dikembalikan kepada tingkatan yang paling rendah, kecuali orang yang beriman dan beramal shalih. Itulah yang tidak jatuh kepada tingkatan yang paling rendah. Beriman dan beramal shalih apa wujud kongkritnya? Yaitu melaksanakan amanat Allah di dalam mentadbir/mengatur bumi Allah ini dengan hukum-hukum Allah. Itulah yang dimaksud oleh Allah sebagai ibadah.

Oleh karena itu Tathbiqus Syari’ah, yaitu menegakkan dan melaksanakan hukum allah merupakan keperluan yang pokok bagi ummat manusia yang mau sadar, sebagai suatu kewajibah yang paling mendasar dan merupakan modal yang paling penting di dalam menyelamatkan diri kita dunia dan akhirat.

Bardasarkan alasan di atas, diserukan kepada seluruh ummat Islam di mana saja berada, hendaklah menyadari kewajiban menegakkan Syari’ah Allah ini.

Apalah artinya kekayaan yang kita punyai, kenikmatan dunia yang kita berlomba-lomba mengejarnya jika Syari’ah Allah tidak berjalan. Itu semua hanyalah sebagai kenikmatan yang sedikit.

Kami telah berkeyakinan, apabila pelaksanaan Syari’ah Allah tidak dihalang-halangi, niscaya hidup dan kehidupan rakyat negeri ini akan aman tentram. Karena setiap orang akan mendapatkan keadilan Allah, mendapatkan manfaat yang besar dari ajaran Rasulullah saw. Akan tetapi apabila dihalang-halangi bahkan aspirasi ummat Islam pun dihambat secara dzalim, maka kaum muslimin telah diberi hak oleh Allah untuk melawan. Dan bagi Majelis Mujahidin, hanya ada dua alternatif, berlakunya Syari’ah Allah atau kami mati di atas jalan jihad fi sabilillah.

Inilah pernyataan kami kepada semua hamba Allah yang masih belum mau beriman, dan menolak berlakunya Syari’ah Islam. Hal ini merupakan satu keyakinan yang tertanam di dalam hati kami. Oleh karena itu kami harapkan kepada pemerintah supaya memahami hal ini. Jangan sampai keyakinan seperti ini terus-menerus dirampas dan didzalimi.

Sudah lebih dari setengah abad Indonesia merdeka, selama itu pula hak-hak ummat Islam dirampas dan dimanipulasi. Kenyataan merupakan sesuatu yang sangat aneh terjadi di Indonesia, sebuah negara di mana hak rakyat mayoritas diperkosa oleh minoritas. Ummat Islam seakan-akan menjadi mayoritas dzimmi karena hak untuk melaksanakan ibadah, melaksanakan Syari’ah kepercayaannya selalu dihalangi dan dihambat. Ini adalah fakta yang sangat jelas, tentang adanya ketidakadilan yang sangat menyengsarakan penduduk mayoritas negeri ini. Sejak zaman Orde Lama hingga sekarang, agaknya mengorbankan aqidah ummat Islam dipandang jauh lebih kecil resikonya oleh pemerintah dibanding menolak kemauan non muslim untuk memberlakukan sebagian Syari’ah Islam.

Semua orang hendaknya memahami, bahwa apa yang kita perjuangkan ini adalah satu-satunya kebenaran berdasarkan firman Allah swt:

“Kebenaran itu adalah dari Rabb-Mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al Baqarah, 2:147).

Bahwa apa yang disebut benar adalah apa yang datang dari Allah Rabbul’alamin. Benar itu adalah konsepsi yang bersumber dari wahyu Allah, bukan yang muncul dari filsafat manusia. Kebenaran mutlak adalah kebenaran yang dikonsep oleh Allah dan dicontohkan Rasulullah saw.

Islam adalah wahyu Allah yang kebenarannya mutlak dan dapat dibuktikan dari segala segi. Sebagai Muslim kita siap untuk bermunadharah bahkan bermubahalah dengan siapa saja yang masih meragukan kebenaran ini. Dan bagi kita para mujahidin, yakin saja belum cukup untuk memenangkan kebenaran di atas kebathilan. Diperlukan juga keikhlasan dan sikap zuhud.

Zuhud dalam pengertian ini, menurut sebagin ulama adalah orang yang hatinya kosong daripada dunia, sekalipun harta dunia melimpah ruah berada dalam genggamannya. Artinya, harta dunia yang ada di tangannya tidak akan melalaikannya dari kewajiban menegakkan Syari’ah Allah dan berjihad fi sabilillah. Bahkan yang ada pada dirinya, diperuntukkan semuanya bagi keselamatan akhirat.

Oleh karena itu, untuk membangun kesejahteraan hidup di akhirat, gunakanlah semua rizki yang diberikan oleh Allah kepadamu, baik berupa umur, kesehatan, ilmu, keahlian, harta, anak, kedudukan maupun pangkat. Apa saja yang diberikan Allah kepadamu, jadikan sebagai modal membangun rumah di akhirat dengan menyalurkan semua itu pada jalan Allah dan demi tegak dan terlaksananya Syari’ah Allah di muka bumi ini. Dengan semua itu, kita bisa memberi manfaat bagi manusia, menolong mereka. Di samping tentu saja, membimbing mereka ke jalan yang benar sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Sumber: Buku Panduan Daurah Syar’iyah Untuk Penegakan Syari’ah Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Terkait

No Content Available

Tulisan Rekomendasi

Tulisan Terbaru

Tulisan Terpopuler

No Content Available