Sistem Kepemimpinan Islam di Indonesia

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram

Kader atau pemimpin adalah rahasia kehidupan Ummat. Sejarah ummat adalah sejarah para pemimpin yang cerdas, kuat jiwa dan kemauannya. Kekuatan atau kelemahan seorang pemimpin dapat diukur dengan keberhasilannya membina ummat yang memenuhi syarat menjadi kader yang setia dan benar. Saya yakin, dan sejarah menguatkan  pendapat orang ini, bahwa setiap orang dapat membina ummat jika sifat kesatriaannya itu benar.Dan dapat pula menghancurkan dirinya jika sifat satrianya mengarah pada kehancuran dan bukan kearah kebangkitan dan kebebenaran ( Hasan Al-Banna).

Uraian dibawah inidisarikan dari sebuah artikel dalam majalah Al-Muslimun No. 201, Rabiul Akhir 1407 H, dibawah judul:” Sumber daya Strategik Ummat Islam ; tulisan Ahmad M Syaefuddin. Pemikiran yang dituangkan penulisnya menunjukkan adanya kesungguhan untuk membuktikan bahwa ummat Muslim d negeri ini  tidak hanya memiliki potensi otot, tetapi juga otak. Untuk melihar masa depan ummat Islam, M Syaefuddin  mendiagnosa lima sumber daya strategic terutama dalam bidang social ekonomi,. Disisni kita hanya mengutip satu saja dari lima sumber daya hasil  diagnose penulisnya, yaitu “Sumber Daya Kepemimpinan”.-

Sistem kepemimpinan ummat muslim sepanjang lentangan sejarah selalu rapuh. Pemimpinnya selalu tidak berdaya  dan tidak mempunyai wawasan masa depan untuk mengatur strategi dalam memanfaatkan potensi ummat muslim dengan segala posisi kehidupan yang sangat menentukan langkah sejarah.

Persoalan ini perlu dianalisa leboh tajam untuk mengetahui dimana sebenarnya titik lumpuhnya system kepemimpinan yang dari masa ke masa  belum membuahkan hasil panenan berupa keselamatan dan kesejahteraan ummat. Apakah kelemahan ini terletak pada manusia atau pemmpinnya yang sebagai figure ? Akankah konsep kepemimpinan yang diterapkan tidak sesuai dengan realitas sosio-kultural masyarakat yang 70 % bermukin di pedesaan dengan standar hidup dibawah garis sejahtera.

Persoalan ini memang terletak pada dua factor, yakni factor manusia dan system kepemimpinannya. Pertama : manusia pemimpin mentalnya rata-rata masih keropos.Nafsunya bejat dan tenaganya kurang. Kalau sudah menjadi pemimpin pandangannya berubah arah, lebih seing keatas, sangat jarang atau lupa melihat kebawah. Pemimpin demikian berarti:keatas tak berpucuk, kebawah tak berakar, alias tergantung ditengah-tengah . Tidak seperti “kasajaratin Thoyibatin-akarnya terhujam kebumi, dan dahannya menjulang tinggi keangkasa. Pohon ini selalu berbuah setiap saat dengan izin allah (Qs.Ibrahim, 14 : 24-25)

“ dan yang baik seperti di sebuah pepatah “ melihat kebawah perlu agar kaki tidak tersandung, menengadah keatas jangan sampai menginjak kaki seseorang “

Terjadinya pemimpin dikalangan muslim banyak yang tidak melalui seleksi sejarah pemimpin kadang-kadang dikontrol atau diadopsi secara mendadak karena dianggap cukup atau berhasil dalam satu sisi kehidupannya. Namun manajemen kepemimpinan tidak dikuasai dengan baik sehingga begitu menjadi pemimpin dan dihadapkan dengan masalah pelik dan pemimpin jadi bingung dan anjlok wibawanya ternyata tipe pemimpin figure seperti ini banyak merugikan ummat dan memperburuk citra islam dikalangan khalayak ramai.

Pemimpin ummat muslim juga kurang memperhatikan kelicikan muslihat pihak luar (salah satu kelamahan kita adalah ) sikap kita yang selalu berbaik sangka terhadap musuh selalu menilai merka dengan ukuran-ukuran kita dengan ukuran-ukuran yang berkebajikan kita menimbang musuh-musuh kita dengan neraca yang kita gunakan untuk menilai orang-orang yang sholeh. Bila kita telah lumpuh akibat pukulan mereka baru kita mengeluh “ Ah kita tak menyangka jadi begini, dikhianati oleh mereka “ inilah fakta sejarah (BM).

Akibatnya terjebak pada masalah kulit luar yang sama sekali tidak mendasar mereka belum mampu mebedakan mana yang prinsip, strategic, taktik, dan teknik secaramenukik. Dari sisi itulah para pemimpin ummat muslim dihasut dipecahkan dan diadu domba sehingga kekutan umat muslim tidak tertumpu pada suatu basis perjuangan srtategis salah satu watak jelek dari pemimpin ummat muslim. Bahwa yang satu tidak mau kalah dari yang lain, mereka saling adu gengsi bergumul dan baku hantam masing-masing pihak minta di sahkan menjadi pemimpin ummat yang berhasil, bukan saja pada lembaga atau institusi formal tetapi juga non formal. Begitu juga kaum cerdik cendekiawan muslim belum pernah rukun masing-masing angkuh angker dengan kitab kuningnya dan kitab putihnya. Semua mengaku dirinya lebih ahli tentang Qur’an Hadits dan ayat-ayat kauni tentang sain dan teknologi serta  entah tentang apalagi tentang cendekiawan umumnya unmana geble person- tak mau mau dipimpin kecuali  oleh otaknya sendiri.

Kedua, sistem kepemimpinan yang paling rapuh adalah system kepemimpinan ummat muslim. Walaupun sejarah membuktikan bahwa mereka mempunyai andil dalam hal membuat  garis-garis sejarah yang menentukan tetapi begitu suasana sudah stabilselanjutnya kendali kepemimpinan diserahkan ke orang lain seakan-akan ummat muslim dihabiskan hanya untuk meratakan jalan bagi sebuah tangk rampasan perang dari musuh. Setelah itu kendalinya dipegang oleh orang lain untuk kemudian mengarahkan moncong meriam tank-tank tersebut kerumah-rumah ummat. Tragis……..!

Pemimpin ummat muslim sering kalah dalam konsep saat perhitungan terakhir meski demikian ummat muslim Alhamdulillah selalu menang bila terpaksa harus perang. Bukti-bukti sejarah menjadi saksi hidup sampai saat ini. Para mujahidin yang  yang sekarang ii tinggal tulang belulang yang berserakan diseluruh pusat nusantara mereka maju dengan takbir, Merdeka atau mati Syahid !. mereka terjun kegenggang pertempuran dibawah bendera bismillah. Perjuangan membebaskan diri dan Negara dari penjajah yang bergemuruh di dada adalah semangat keislaman Allahu Akbar !  Prinsip dari pahlawan-pahlawan muslim Imam Bonjol di Sumatera barat, Teuku Umar dari Aceh, Pangeran Diponegoro dari Jawa, Hasanuddin dari Sulawesi, Antasari dari Kalimantan dan ratu lesi dariMaluku adalah semangat keislaman penjajah dianggap orang kafir yang harus diusir. Di dalam dada mereka yang bergejolak  adalah memperjuangkan dan menuntut kemerdekaan Islam sama halnya dengan mengusir dan memerangi pemimpin yang jahat dan kafir Suatu pemimpin selain yang Islam.

“ Hai orang-orang yang beriman jangan lah kamu mengangkat orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin, mereka satu sama lain tolong menolong siapa saja yang mengangkat mereka menjadi pemimpinnya, maka ia termasuk golongan mereka, sesungguhnya Allah tidak menyukai kaum yang Dholim (Qs Almaidah,5:57).

“ Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang mengangkat kaum yang dimurkai oleh Allah sebagai pemimpin mereka , mereka tidak masuk golongan  kamu dan tidak pula masuk golongan mereka, dan mereka bersumpah palsu sedang mereka mengetahui (Qs. Al-Mujadalah, 58:14)

Sistem kepemimpinan sekarang harus diubah menjadi leader Followes System, dibawah seorang tokoh Muslim yang mampu membuat revolusi spiritual. Yakni revolusi tanpa mengeluarkan darah merah dalam arti perang atau kekerasan . Tokoh tersebut hendaknya mempunyai pengaruh terhadap institusi dan lemabaga islam yang mengelola ummat. Suaranya merupakan alternative akhir untuk menentukan posisi ummat kearah mana sebenarnya mereka harus menghadapkan niat, strategi dan tujuan akhir kehidupannya di masa depan.

Lembaga dan organisasi  social ekonomi yang muslim base, dewasa ini tidak lebih dari arena pertikaian. Tidak bisa  diharapkan lagi untuk emperjuangkan Islam. Pemimpinnya saling bercakaran dan kehilangan identitas. Jabatan yang mereka incar, dan bukannya nasib ummat yang diperbaiki. Mana bukti amal prestasi mereka untuk Ummat ? sekarang dicari tokoh spiritual yang intelektual untuk  memimpin massa ummat Muslim. Untuk menyadarkan ummat muslim secara kaffah. Oleh sebab itu system kepemimpinan muslim harus lebih bersifat kekeluargaan dalam arti silaturahmi dan sinergi antara kepemimpinan spiritual dan intelektual dalam sebuah konsep  yang utuh dan efektif. Janganlah mengangkat atau memilih pemimpin yang suka mengolok-olok agama.

“Hai orang-orang yang beriman ! Janganlah kamu mengangkat jadi pemimpinmu orang-orang yang suka mengejek dan mempermainkan agamamu” (Qs.5:57)

“Dan biarkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau. Mereka telah terpedaya oleh kehidupan dunia. Berilah mereka peringatan dengan Al-Qur’an supaya setiap diri jangan dijerumuskan karena ulahnya. Tidak ada selain dari Allah  pembela dan penolongnya. Dan jika ia menebus dengan apa juapun, tidaklah akan diterima. Merekalah yang dijerumuskan karena ulahnya. Adalah bagi mereka minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih lantara kekafirannya “ (Qs. 6:70)

“ Orang-orang  yang menjadikan agamanya sebagai senda gurau dan manis. Mereka telah dipertanyakan oleh kehidupan dunia. Pada hari ini kami melupakan mereka, sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka hari ini , dank arena mereka menyangkal ayat-ayat kami (7: 51).

Demikianlah firman-firman Allah yang kami bacakan kepadamu dengan  benar. Mana keterangan manakah lagi sesudah (wahyu) Allah dengan keterangan –keterangan-Nya (yang dapat mereka percayai)? Celakalah setiap orang yang banyak dusta dan banyak dosa. Dia mendengar firman-firman Allah dibacakan kepadanya. Sesudah itu ia tetap sombong, seolah-olah ia tidak mendengarnya . Maka sampaikan kepadanya berita bahwa ia akan mendapat siksa yang pedih. Dan apabila ia mengetahui  sedikit ayat-ayat kami, dijadikannya buah ejekan. Mereka mendapat azab yang menghinakan “.(Qs.45:6-9)

Dua faktor perjuangan yang menentukan, yakni pertama: pemimpin, dan yang kedua : Massa sebagai  basis perjuangan. Pemimpin yang tidak mempunyai massa bukanlah pemimpin. Massa adalah kelompok manusia yang diberi informasi untuk  menyadari eksistensinya. Sehingga mereka dapat memperjuangkan hak dan melaksanakan kewajiban social ekonominya, serta mengekspresikan  rasa solidaritasnya terhadap sesame ummat. Ummat muslim sangat potensial  dalam hal ini. Akar akidah yang sangat kuat yang dimiliki ratusan juta kaum muslimin di desa dan di kota dapat dikondisikan untuk memperjuangkan kemerdekaan dari belenggu-belenggu  social-ekonomi kontemporer. Massa basis yang ada cukup kuat . Sekarang persoalannya, siapa sebenarnya yang mampu dan mau tampil untuk membuka kesadaran mereka dalam bersosial ekonomi sesuai dengan garis-garis pokok dan nilai Islami.

Potensi terbesar yang sampai sekarang belum berhasil dimanfaatkan adalah massa basis  yang tidak pernah  dikondisikan bagi suatu motivasi pembebasan maupun pembangunan kaum muslimin di masa depan.Tatanan nilai yang berlaku sekarang ini, memang ampuh memotong akar aqidah ummat . Massa basis muslim di desa-desa telah berhasil secara gemilang ketika penumpasan G 30 S-1965, PKI dan antek-anteknya. Kemudian ummat muslim tampil kedepan untuk bergumul dengan PKI, mereka jugalah yang menjadi sasaran umpan peluru ketika memperjuangkan kemerdekaan dari tangan penjajah. Disisni terbukti bahwa gelombang massa Muslim mudah sekali dikondisikan untuk suatu tujuan suci dan mulia. Ke-Islaman mereka yang terpelihara selama ini jika didekati dengan cara yang baik, maka akan meluap-luap karena kesadaran nuraninya tersentuh. Massa basis yang melimpah ini harus diatur sedemikian rupa agar bisa menjadi perisai untuk lembaga dan institusi Islam yang sekaligus menjadi benteng kokoh dalam memelihara tauhid . Pemuda-pemudi yang ada diseluruh pondok pesantern harus diberi kesadaran solidaritas Ukhuwah Islamiyah. Dan diyakinkan bahwa  mereka adalah gelombang massa yang paling efektif untuk mengadakan aktifitas  cultural dalam berbagai bidang kehidupan. Persaudaraan di pondok pesantren  harus dibina.Meliputi seluruh kyai, ustad dan santrinya. Mereka ini, para santri akan memasuki segala medan kehidupan. Ada yang menjadi buruh pabrik, kuli, sopir, tentara, pedagang K-5, penguasa, pengusaha, Mahasiswa, sarjana dan pegawai.Bahkan ada yang menjadi majikan dan pembantu. Pendidikan santri adalah massa yang paling efektif  untuk menenamkan wawasan Islam yangv bersifat nasional, internasional, dan universal. Santri harus pula diberi wawasan  ilmu dan teknologi untuk menghadapi kemungkinan masa depan. Mereka harus diberi tahu tentang perolmbaan  senjata nuklir dan laser yang sekarang sedang menggila. Juga ancaman-ancaman internasional lainnya, misalnya saja tentang Zionisme, Kapitalisme, Liberalisme, kemiskinan, ketidakadilan, perang dan lain-lain. Merekapun harus mengetahui tentang garis-garis strategic yang diambil secara nasional atau internasional dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Jika ini tidak kita lakukan, maka nasib ummat Muslim tetap rapuh dan lemah. Bagaikan buih yang berlimpah terbawa arus kesana kemari tak menentu. Pondok-pondok pesantren harus berjuang untuk saling studi banding  dan mempercepat ukhuwah Islamiyah. Mereka harus mempunyai kepribadian dan wawasan agar tanggap terhadap lemparan bola dari pihak luar. Para Kyai, ulama dan santri  harus mengetahui mana garis yang prinsip dan mana garis strategic , taktik dan teknik. Dengan demikian mereka dapat terhindar dari perpecahan ummat. Dalam hal-hal yang prinsip tidak ada Muhammadiyah, Persis, NU, Al-Irsyad atau Al-Washliyah dan lain-lain. Yang ada hanya Islam, yakni Islam yang bersumber dari Qur’an dan Hadits. Tuhannya satu Yaitu Allah Rabbul Alamin , dan Nabinya sama yaitu Muhammad SAW. (Baca Qs. Ali-imron,3:103)

Kepemimpinan umat muslim hamper tidak mempunyaiakses dengan labbi nasional mauu Internasional, karwna berbagai halangan dan hambatan baik internal maupun eksternal. Halangan langganan tetap, dan yang sudah pasti , selalu datangnya dalam bentuk kemiskinan, kebodohan,keterbelakangan dan ketergantungan. Gangguan dalam bentuk birokrasi yang berbelit juga menghambat kepemimpinan dan mekanisme kerja ummat untuk pelaksanaan Ibadah Syariat Islam.

Gangguan berupa pemikiran kapitalisme dan komunisme internasional, membawa penyakit jangka panjang dalam bentuk budaya. Dan gangguan yang paling keras justru ditembakkan lewat revolusi informasi dan komunikasi saat ini. Kita saksiakan bagaimana pusat informasi di kuasai oleh kapitalis. Mereka mampu mengirim pesan-pesan dan berita dalam segala bentuknya secara serempak  keseluruh penjuru dunia dalam waktu yang paling cepat. Mereka memiliki data yang lengkap tentang pusat-pusat strategi territorial, social dan ini tidak perlu dianggap aneh, karena kapitalismedan komunisme internasional  bekerjasama untuk menghadang Islam dan ummatnya. Yang sering mereka lisankan adalah gelombang Islam yang kadang-kadang menakutkan karena sukar di duga datangnya. Seperti api didalam sekam., diam-diam dapat besar dan membakar.

Semangat keislaman yang mudah meledak inilah yang diketahui strategis musuh-musuh Islam. Sehingga mereka disana-sini selalu mengadakan penggembosan secara perlahan-lahan untuk merusak hati ummat Muslim dengan berbagai cara dan jebakan diseluruh dunia Islam. Sebab masa lampau memberitahu ahli sejarah bahwa ummat Muslim dimana-mana selalu membawa gelombang dahsyat jika tertekan pada titik yang paling optimal. Inilah yang ditakutkan oleh dunia nasionalisme atau internasionalisme. Insya Allah peristiwa sejarah bisa terulang sebagaimana proses Islamisasi dari Mekkah ke Madinahternyata menjalar sampai kedaratan pirenia memasuki batas-batas wilayah praci melalui Spanyol menjalar ke timur laut samapai memasuki  batas-batas daratan cina adan Hindustan dan samapi keselatan yakni Indonesia. Dan kini, Islam telah menjadi agama Dunia, agama lima benua.

Akhirnya sampailah ita kepada beberapa masalah pentin untuk dijawab Pragnosa apa(Causa-Formalis) yang harus dikerjakan hari ini untuk masa depan ummat ? Apa factor strategis (causa materialis) yang dapat disiapkan untuk menghadapi sekularsme, kapitalisme dan komunisme. Dan setelah itu bagaimana (Causa Efisien)? Dan bermuara dimana (causa Finalis) ? masalah ini memang mudah dijawab secara teoritis tapi sulit dilaksanakan karena kualitas mental dan tingkahlaku umat Muslim umumnya belum Qur’ani. Sambil mendirirkan Sholat, puasa, Zakat dan haji. Mereka masih memuja dan meniriu tradisi dan budaya nenek moyang yang mereka yang non Islami dan sudah menjadi fosil. Tetapi sekarang dihidupkan kembali, mereka masih meniru trades non Islami mulai dari makan, berpakaian, bertuturkata, buang air, bersikap, berjual beli bergaul dan berfikir. Bahkan cara memimpinpun masih menggunakan cara nenek moyang. Inilah antara lain factor-faktor penyebab mengapa ummat muslim umumnya mundur atau jalan ditempat saja.

Inilah nampaknya kesalahan strategic dari dakwah islam. Islam dipromosikan secara sepihak, terpotong-potong dan dikhotomis. Islam yang disampaikan  semestinya utuh: aqidah, syariah dan akhlak itu satu , jangan di pisahkan.Iman, ilmu dan amal juga satu kesatuan, bukan parsial. Iman, Islam dan ikhsan juga satu sama halnya dengan Quran, Hadit dan Ijtihad. Para dai, mubaligh dan umat harus tetap optimis dan dinamis. Hindarkanlah sifat pesimis, frustasi dan reaktif emosional. Islam akan terpelihara karena akan selalu menjadi rujukan, pengembangan sumber daya strategic : Insani, ekonomi, informasi, pengkajian strategic dan kepemimpinan.

“ Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan perbuatan baik bahwa mereka akan diberi warisan, kekuasaan dimuka bumi sebagaimana telah diberikan kepada orang-orang sebelum mereka. Dan akan diteguhkan agamanya yang telah disukai oleh allah dan akan menukar keadaan mereka sesudah ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka menyembah-KU dan tidak mempersekutukan sesuatu dengan AKU. Barang siapa yang ingkar sesudah itu, merekalah orang-orang yang jahat “ (Qs. An-Nur, 24: 55).

Islamlah sebagai sumber petunjuk dan pedoman. Islam adalah rahmatal Lil ‘alamin. Dengan Islam, ummat semua Negara akan aman dan menjamin keadilan serta perdamaian. Karena Islam berarti damai. Mimpi perdamaian dunia, insya Allah dapat diwujudkan pada masa depan dengan islam, yang akan mengatur seluruh manusia untuk mencapaia keridhoan Allah  Azza Wa Jalla. Tiapmuslim mencintai perdamaian (8:61). Karena Islam adalah damai, dalam rahmatal lil ‘alamin; maka hanya dengan Islam sajalah dapat diciptakan masyarakat adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan. – —– Baldatun Toyyibatun Wa Robbun Ghafur ( Negara adil Makmur di bawah kurnia Allah). Insya Allah ketentraman dan kemakmuran seharusnya kan menjadikan umat manusia mengabdi kepada Allah. Dan kita semua sedang menuju kesana, kemasa depan yang lebih baik dari masa kini dan masa lampau.

Nabi bersabda: “ tidak ada  kemenangan tanpa kekuatan;tidak ada kekuatan tanpa perasatuan; tak ada persatuan tanpa sifat-sifat utama; tidak ada sifat-sifat utama tanpa agama –(Qur’an dan Hadits);tidak agama tanpa di  tablighkan dan didakwahkan.

Marilah kita senantiasa mempelajari sejarah, agar kita dapat membuat sejarah masa depan. Insya Allah.

One response to “Sistem Kepemimpinan Islam di Indonesia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Terkait

No Content Available

Tulisan Rekomendasi

Tulisan Terbaru

Tulisan Terpopuler

No Content Available