SYAHRU RAMADHAN,SYAHRUL JIHAD…!!!

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram

SYAHRU RAMADHAN

SYAHRUL JIHAD

Oleh : Abu Muhammad Jibriel Abdul Rahman,,,,,

Muqaddimah

Bismillahirohmanirrahim……

Bulan Ramadhan adalah bulan yang memiliki keistimewaan dan kemuliaan yang sangat banyak. Bulan diturunkan al Quran yang menjadi petunjuk ummat manusia. Di dalamnya terdapat satu malam yaitu malam Lailatul Qadar, beribadah didalamnya lebih baik dari seribu bulan.

Para ulama telah memberikan berbagai istilah mengenai bulan Ramadhan. Antara lain syahru Ramadhan adalah (1) syahrul mubarak (bulan yang penuh keberkatan), (2) syahrus shabri (belun kesabaran), (3) syahrur rahmah, (4) syahrud du’aa, (5) syahrul infaq (bulan di dalamnya digalakkan untuk berinfaq karena memberikan ganjaran yang lebih besar dari bulan lainnya), (6) syahrul maghfirah (bulan pengampunan).

Bulan ramadhan disebut sebagai syahru rahmah, karena pada bulan tersebut Allah swt berjanji menurunkan sebesar-besar rahmat kepada hamba-hamba-Nya melebihi bulan-bulan yang lain. syahrul jihad (bulan jihad, karena di bulan itu dituntut berjuang melawan kehendak hawa nafsu yang menyeleweng,menolak bisikan-bisikan syetan yang membujuk hawa nafsu untuk berbuat jahat, dan di bulan Ramadhan juga banyak melakukan jihad melawan dan menentang kaum kuffar dari golongan ahli kitab (yahudi dan nasrani) dan kaum musyrikin.

Tahapan-Tahapan Jihad Fi Sabilillah

Jihad merupakan puncak tarbiyah dan amaliyah islam dan para pelakunya akan menempati tingkatan yang paling tinggi di surga, sebagaimana mereka juga mendapatkan derajat yang mulia di dunia. Maka tidak mengherankan jika Rasulullah n adalah orang yang paling tinggi kedudukannya dalam masalah jihad, dan sekaligus menguasai segala seluk beluknya. Beliau berjihad karena Allah dengan sepenuh hati, jiwa, dan raga dengan pedang dan tombak, dengan dakwah dan keterangan. Seluruh waktunya tercurah untuk jihad. Karena itu beliau mendapatkan kedudukan yang paling tinggi di sisi Allah dan paling banyak diingat manusia dalam masalah ini. Allah memerintahkan agar beliau berjihad semenjak diutus sebagai rasul. Allah swt berfirman:

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.” (QS Al Furqan: 53)

Ini adalah surah Makiyah agar beliau berjihad dengan hujjah dan keterangan (Al Quran) sebagaimana beliau juga diperintahkan untuk berjihad menghadapi orang-orang munafiq dengan hujjah yang justru lebih sulit daripada menghadapi orang-orang kafir dengan harta dan jiwa, karena jihad ini ditujukan kepada sekelompok orang-orang tertentu, yang juga harus dilakukan oleh para pewaris rasul dan para pendukungnya. Karena jihad yang paling mulia adalah perkataan yang benar di hadapan para thaghut dan pendukung-pendukungnya. Apalagi jika disertai dengan munculnya penentangan yang keras, seperti berkata di hadapan orang yang ditakutkan kekejamannya. Maka para rasul mendapatkan kedudukan yang paling mulia dalam hal ini, dan yang paling mulia dan paling sempurna daripada semuanya adalah Rasulullah n.

Rasulullah n bersabda:

“Ingatlah sesungguhnya seutama-utama jihad adalah perkataan yang benar di hadapan penguasa yang jahat (zhalim).” (HR Ahmad)

Berkata Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Zaadul Ma’aad (bekalan untuk orang-orang yang kembali), jilid 3 hal. 9.

Jika semua ini telah dapat dipahami, maka dapat disimpulkan bahwa jihad itu mempunyai tahapan-tahapan (4 tahapan). Yaitu jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan syaitan, jihad melawan orang-orang kafir, dan jihad melawan orang-orang munafiq.

Pertama: Jihaadun Nafs (Jihad melawan hawa nafsu)

Jihad ini ada 4 tahapan:

  1. Berjihad untuk mempelajari ilmu dan petunjuk, yaitu mempelajari agama yang haq, seseorang tidak akan dapat mencapai kejayaan, kebahagiaan di dunia dan akhirat melainkan dengan ilmu dan petunjuk. Apabila dia tidak mau mempelajari ilmu yang bermanfaat, maka dia akan celaka dunia dan akhirat.
  1. Berjihad untuk mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya. Bila hanya semata-mata berdasarkan ilmu saja tanpa amal, maka bisa jadi ilmu itu akan mencelakainya bahkan tidak bermanfaat baginya.
  1. Berjihad untuk mendakwahkannya, mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya, maka apabila dakwah ini tidak dilakukannya maka hal ini termasuk menyembunyikan ilmu yang telah Allah turunkan baik berupa petunjuk maupun keterangan-keterangan. Maka ilmunya tidak akan bermanfaat dan tidak pula dapat menyelamatkannya dari adzab Allah.
  1. Berjihad untuk sabar terhadap kesulitan-kesulitan dalam berdakwah di jalan Allah dan juga sabar terhadap gangguan manusia. Dia menanggung kesulitan-kesulitan dakwah itu semata-mata karena Allah. Apabila terpenuhi keempat tingkatan tersebut maka dia akan termasuk sebagai orang yang Rabbani. Maka, para Salafush Shalih bersepakat bahwa seorang tidak dapat disebut sebagai seorang yang Rabbani sampai ia dapat mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan mengajarkannya. Oleh karena itu orang yang berilmu, mengamalkannya dan mengajarkannya, maka ia akan disanjung di sisi para Malaikat-Nya.

Kedua: Jihaadus Syaithan (Jihad melawan syaitan)

Terdapat dua tahapan:

  1. Berjihad untuk membentengi dari serangan syubhat dan keraguan yang dapat merusak iman.
  1. Berjihad untuk membentengi dari serangan keinginan-keinginan yang merusak dan syahwat.

Tingkatan Jihadus Syaitan yang pertama akan ada sesudah adanya keyakinan dan pada tingkatan yang kedua akan ada sesudah adanya kesabaran. Allah al-Haafizh berfirman yang artinya: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24). Allah mengabarkan bahwa kepemimpinan dalam agama hanya dapat diperoleh dengan sabar dan yakin, sabar itu akan dapat menolak syahwat dan keinginan-keinginan yang merusak. Sedangkan yakin akan dapat menolak dari keraguan dan syubhat.

Ketiga: Jihaadul Kuffar wal Munafiqin

Adapun Jihad melawan orang kafir dan munafik ada 4 tahapan : (1) Jihad dengan hati,  (2) jihad dengan lisan, (3) jihad dengan harta, (4) jihad dengan jiwa. Dan adapun Jihadul Kuffar (jihad melawan orang-orang kafir) lebih khusus (konteksnya dilakukan) dengan tangan (kekuatan), sedangkan Jihadul Munafiqin (jihad melawan orang-orang munafiq) lebih khusus (konteksnya dilakukan) dengan (kekuatan) lisan. .

Keempat: Jihadul Arbaab Zhulm wal Bida’ wal Munkaraat (Jihad melawan tokoh-tokoh yang Zhalim, pelaku bid’ah dan kemungkaran)

Padanya terdapat 3 tingkatan: (1) Dengan tangan apabila sanggup. (2) Apabila tidak sanggup maka dengan lisan. (3) Apabila tidak sanggup maka dengan hati.

Demikianlah 4 tahapan jihad itu.

Rasulullah n bersabda:

“Dan barangsiapa yang meninggal dunia sedang ia tidak pernah ikut berperang dan ia juga tidak terbetik dalam benaknya untuk berperang, maka matinya termasuk dalam satu cabang kemunafikan.”

Adapun syarat-syarat jihad, beliau mengatakan,

Dan tidaklah sempurna jihad itu melainkan dengan hijrah, dan tidak sempurna hijrah dan jihad itu melainkan dengan iman. Orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah adalah mereka yang melaksanakan tiga perkara ini. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Baqarah, 2: 218)

Sesungguhnya hamba yang paling sempurna di sisi Allah dalam jihad ialah orang yang menyempurnakan semua tahapan jihad ini. Tentu saja manusia berbeda-beda kedudukannya di sisi Allah tergantung dari perbedaan tahapan dan tingkatan jihadnya. Karena itu orang yang paling sempurna dan paling mulia di sisi Allah adalah para nabi dan rasul, dan yang paling sempurna di antara mereka ialah Rasulullah n. Beliaulah yang menyempurnakan semua tahapan jihad ini.

Fadhilah-Fadhilah Jihad

Firman Allah swt:

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS As Shaff, 61: 10-13)

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An Nisaa’, 4: 95-96)

Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa jihad memiliki keutamaan atau keistimewaan yaitu,

  1. Amalan jihad dapat membebaskan seorang hamba dari siksa api neraka.
  2. Amalan jihad menghapuskan segala dosa-dosa.
  3. Amalan jihad akan memasukkan ke dalam surga.
  4. Amalan jihad akan menempatkan pelakunya pada kedudukan yang mulia dalam surga.
  5. Amalan jihad merupakan syarat datang pertolongan Allah swt.
  6. Amalan jihad merupakan kekuatan yang akan memberikan kemenangan kepada ummat Islam.
  7. Amalan jihad akan mengangkat pelakunya menjadi manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah.
  8. Amalan jihad mendatangkan ampunan dan rahmat Allah swt.
  9. Orang yang berjihad diberikan kemuliaan jika ia mati mendapatkan mati syahid. Dan orang yang mati syahid diberikan kemuliaan yang banyak oleh Allah swt. Rasulullah n bersabda:

Bagi orang yang syahid terdapat 6 hal yang akan diterimanya, yaitu: Pertama, Allah memberi ampunan ketika pertama kali bergerak dan akan melihat tempatnya di Jannah. Kedua, selamat dari siksa kubur. Ketiga, selamat dari goncangan hari kiamat. Keempat, akan diberikan kepadanya mahkota kebesaran yang terbuat dari permata Yaqut sebagai tanda kehormatan yang jauh lebih mahal daripada dunia seisinya. Kelima, akan dikawinkan dengan 72 bidadari. Dan keenam, dapat memberi syafa’at kepada 70 keluarganya.” (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majjah)

Dari Anas bin  Malik t, Rasulullah n bersabda:

“Tidak seorangpun yang telah masuk ke dalam Jannah ini kembali lagi hidup di dunia walaupun ia memiliki kekayaan sedunia melainkan orang-orang yang mati syahid. Maka sesungguhnya ia ingin dikembalikan ke dunia lalu ia terbunuh sebanyak sepuluh kali, karena ia melihat kemuliaan (orang yang mati syahid). Dan dalam satu riwayat, karena melihat keutamaan orang-orang yang syahid.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan Tirmidzi)

  1. Amal-amal shalih dalam jihad dilipatgandakan dengan lipatganda yang sangat besar berbanding dengan amal ibadah lainnya. Rasulullah n bersabda:

“Shalat di dalam masjidku sebanding dengan sepuluh ribu shalat (di tempat lain), dan shalat di dalam Masjidil Haram sebanding dengan seratus ribu shalat, dan shalat di medan ribath sebanding dengan dua juta di tempat lain.” (HR Abu Syaikh dan Ibnu Hibban)

  1. Orang yang berjihad doa-doanya dikabulkan dan dijamin surga.

Rasulullah n bersabda:

“Sukakah kamu bahwa Allah mengampuni dosa-dosa kamu dan memasukkan kamu ke Jannah? Berperanglah kamu di jalan Allah. Barang  siapa berperang di jalan Allah sebatas waktu memerah susu unta wajib baginya Jannah.” (HR Tirmidzi dan Ahmad)

Dari Sahl bin Sa’d as Saa’idi t berkata,

“Dua saat dibuka padanya pintu-pintu langit, dan sedikit sekali ditolak seruan orang yang menyeru atau do’a orang yang berdo’a. Yaitu ketika adzan telah selesai dan waktu perang fie sabilillah. Dalam satu lafadz lain: dua saat yang tidak ditolak atau sebagaimana ia katakan tidak ditolak dua hal, yaitu di waktu ada panggilan orang-orang yang memanggil dan pada saat pertempuran sedang berkecamuk antara sebagian lainnya.” (HR Malik, Abu Dawud dan ad Daarimi)

Wallahu ‘alam bishawab………………………

********

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Terkait

Tulisan Rekomendasi

Tulisan Terbaru

Tulisan Terpopuler

No Content Available